Petani Optimis Tetap Tanam Tembakau

Petani Optimis Tetap Tanam Tembakau

TEMANGGUNG – Di tengah pandemi Virus Corona (Covid-19) ini, petani tembakau di lereng Gunung Sindoro, Gunung Sumbin dan Gunung Prau tetap optimis menanam tembakau. Mereka berharap saat panen raya mendatang kondisi sudah semakin membaik dan normal kembali. Rasidi (53) salah satu petani tembakau asal Desa Tanggul Anom Kecamatan Selopampang menuturkan, meskipun kondisi saat ini memang sedang kurang mendukung, namun petani tetap optimis menanam tembakau. "Karena tembakau satu-satunya tanaman yang mampu bertahan hidup saat musim kemarau tiba," katanya. Memang diakuinya, di tengah pandemi Covid-19 ini, semua perekonomian sudah terlihat mulai lesu. Harga-harga bahan pokok (sembako) naik, namun harga jual produksi dari petani justru turun drastis. “Apa sebabnya saya juga tidak paham, saat ini harga jual cabai keriting saja hanya Rp5.000 per kilogram, padahal di saat kondisi normal paling tidak harganya mencapai Rp15.000 per kilogram, kalau sedang mahal bisa mencapai Rp45.000 per kilogram,” ujarnya.

BACA JUGA: Ada Covid-19, PLN Diprediksi Rugi Rp7 Triliun

Kondisi iini lanjutnya, justru semakin membuat petani semakin optimis untuk menanam tembakau, sebab tembakau menjadi salah satu tanaman andalan bagi petani di wilayah Kabupaten Temanggung yang akan mampu mendongkrak perekonomian. “Temanggung itu kalau harga tembakaunya bagus, maka perekonomian Temanggung akan langsung meningkat. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya seperti itu,” ujarnya. Informasi yang disampaikan oleh pemerintah bahwa pabrikan rokok di Temanggung akan mengurangi kuota pembelian, namun biasanya ketika kualitas tembakau bagus dan sesuai dengan keinginan pabrikan, maka pabrikan akan membeli tembakau dari petani sampai habis. “Pabrikan sudah memberikan kepastian tetap akan membeli tembakau, petani sangat optimis tetap tanam tembakau,” tuturnya. Wahyu Subroto (43) petani tembakau lainnya menambahkan, mayoritas petani di lereng Gunung Prahu sudah mulai tanam tembakau, begitu pula dengan sebaian petani di lereng Gunun Sindoro dan Sumbing. Tidak ada petani tembakau yang beralih ke tanaman yang lainnya saat memasuki musim tanam tembakau. Menurutnya, kondisi seperti tidak hanya dialami tahun ini saja, saat krisis moneter 1998 lalu kondisinya juga hampir sama. Saat itu petani juga tetap optimis tanam tembakau, dan hasilnya cukup bagus, harga tembakau juga bagus. Panen raya tembakau biasanya dimulai pada bulan Agustus hingga bulan Oktober, sehingga waktunya masih cukup panjang. Dengan selang waktu ini harapan petani kondisi sudah semakin pulih dan kembali seperti sedia kala. “Pemerintah sudah berusaha maksimal untuk melakukan pencegahan penyebaran virus corona, semoga saja dalam waktu dekat ini bisa teratasi dan kondisi bisa kembali pulih. Sehingga saat panen mendatang masyarakat sudah kembali beraktivitas seperti sedia kala,” harapnya. Ia juga berharap, saat panen raya mendatang cuaca sudah semakin membaik, sehingga kualitas tembakau juga akan bagus. Dengan demikian harga tembakau juga semakin bagus. “Saat ini petani sudah tanam tembakau sesuai keinginan pabrikan yakni varietas kemloko, semoga saja kondisi semakin mambaik, cuaca mendukung dan pabrikan bisa menyerap semua tembakau dari petani,” harapnya lagi.(set)

DAPATKAN UPDATE BERITA FIN LAINNYA DI Google News


admin

Tentang Penulis

Sumber: