KSP: Medan Berat Jadi Tantangan Aparat Buru MIT

KSP: Medan Berat Jadi Tantangan Aparat Buru MIT

JAKARTA - Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengungkapkan medan yang berat menjadi tantangan bagi aparat dalam menuntas kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Sulawesi Tengah. Mantan Panglima TNI itu mengaku tahu persis lanskap hutan dan pegunungan yang menyulitkan aparat memburu kelompok teroris tersebut. "Saya tahu persis medan di sana, medannya gunungnya berlapis-lapis, sangat luas, hutan masih cukup lebat dan masyarakat tinggal cukup berjauhan, sehingga untuk menjaga rasa aman mereka tidak mudah," kata Moeldoko dalam keterangan di Jakarta, Selasa (1/12). Ia mengaku pernah memiliki pengalaman saat masih menjabat panglima TNI. Kala itu ia meminta izin kepada presiden untuk menggunakan wilayah di Sulawesi Tengah sebagai tempat latihan operasi gabungan TNI-Polri. Dengan kegiatan itu, konsentrasi kelompok teror di sana pun pecah dan polisi bisa menangkap mereka. Pada masa kepemimpinan Moeldoko di TNI pula cikal-bakal Komando Operasi Khusus Markas Besar TNI dibentuk dan pusat konsinyasinya telah ditentukan yaitu di Sentul. "Itu referensi yang bagus. Maka begitu kejadian kemarin (kekerasan di Sigi) saya mengajak panglima TNI berdiskusi, langkah ke depan secara taktis seperti apa. Alhamdulillah kemarin sudah disiapkan pasukan khusus ke sana," katanya. Ia mengatakan kolaborasi TNI-Polri diperlukan untuk menangani kelompok teror di wilayah tersebut. Sebab baik TNI maupun Polri memiliki batas kemampuan dalam menghadapi situasi-situasi berkaitan dengan beragam variabel daerah operasi. "Kalau dibilang kok susah banget nggak diberesin, kalau teman-teman lihat medan di sana yang gunungnya berlapis-lapis, memang tidak mudah. Apalagi dia (MIT) dalam jumlah kecil, bisa membaur dengan masyarakat, punya manuver cepat dan mengetahui medan. Tapi panglima TNI punya pasukan khusus untuk menghadapi itu semua," kata dia. Diketahui, Diketahui, kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora menyerang permukiman warga transmigrasi dan membunuh empat orang serta membakar beberapa rumah di Dusun Lima Lewonu, Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Jumat (27/11) sekitar pukul 09.00 WITA. Dari enam rumah yang dibakar, salah satunya biasa dijadikan tempat beribadah umat Gereja Bala Keselamatan. Kejadian tersebut pun menimbulkan rasa ketakutan warga sehingga sampai saat ini sedikitnya 49 kepala keluarga masih mengungsi di Balai Desa Lemban Tongoa, Kabupaten Sigi. (riz/fin)

Sumber: