Ngeri! Ada Potensi Tsunami 8 Meter di Cilegon

Ngeri! Ada Potensi Tsunami 8 Meter di Cilegon

JAKARTA - Ancaman gempa bumi dan tsunami kerap menimpa Indonesia. Sejumlah wilayah di Tanah Air sudah dipetakan sebagai daerah rawan bencana. BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) menyebut ada potensi tsunami di Cilegon, Banten. Tsunami diperkirakan terjadi hingga ketinggian 8 meter. Masyarakat diminta waspada. "Zona rawan tsunami di Cilegon Banten, itu juga tempat wisata di Selat Sunda dapat berpotensi skenario terburuk mengalami tsunami dengan ketinggian hingga 8 meter," ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati saat rapat kerja bersama Komisi V DPR, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (1/12). Namun, Dwikorita tidak menyebut kapan potensi tsunami itu akan terjadi. Dia hanya memaparkan zona rawan tsunami. Menurutnya, dalam beberapa waktu ke depan diprediksi terjadi fenomena alam. Terutama di masa menjelang natal dan tahun baru. Sebagian wilayah Indonesia akan mengalami hujan lebat. Hampir di seluruh wilayah Sumatera dan Jawa akan berpotensi hujan lebat. Begitu juga Kalimantan, Sulawesi hingga Papua. Periode 18-24 Desember 2021, potensi cuaca satu minggu sebelum natal, terdapat potensi hujan lebat hampir seluruh provinsi di Sumatera. Untuk di Jawa, kecuali DKI Jakarta juga akan mengalami hujan lebat. Begitu juga di kawasan NTT. Demikkan pula di Kalimantan, Papua, Papua Barat, Maluku dan Maluku Utara. "Itu diprediksi akan terjadi hingga 24 Desember," imbuhnya. Pada periode 25 Desember-1 Januari 2022, potensi hujan lebat akan terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Begitu juga pada periode 2-8 Januari 2022 mendatang. "Ada beberapa yang mengalami diprediksi hujan intensitas sedang. Tetapi, mayoritas hujan lebat," jelasnya. Masyarakat diminta terus memperhatikan pantauan cuaca. Dengan adanya hujan lebat, bencana alam akan mungkin terjadi. Dwikorita meminta masyarakat tetap berhati-hati. "Poinnya adalah keselamatan. Karena dengan hujan lebat, potensi bencana, banjir, longsor, banjir bandang, gelombang tinggi, itu semakin meningkat. Apalagi di masa pandemi COVID-10, biasanya daya tahan tubuh juga menurun dalam kondisi cuaca semacam itu," pungkasnya. (rh/fin)

Sumber: