Rakata Banner Detail

Waduh, Negara di Asia Pasifik Rentan Terdampak Serangan Siber

Waduh, Negara di Asia Pasifik Rentan Terdampak Serangan Siber

JAKARTA - Perusahaan keamanan siber Kapersky menyatakan Asia Pasifik rentan terhadap serangan dunia maya. Hal itu terungkap melalui penelitian oleh perusahaan yang bermarkas di Rusia tersebut. Director of Global Research and Analysis (GReAT) untuk Asia Pasifik Kapersky, Vitaly Kamluk, mengatakan serangan siber merupakan salah satu efek dari pandemi yang memaksa semua orang, dari individu hingga perusahaan besar, mengalihkan aktivitas secara online. "Riset kami menunjukkan bahwa negara paling berdampak pada kebocoran data adalah Australia dan India," ujar Kamluk dalam konferensi pers virtual, Selasa (8/12). Lebih lanjut menurut Kamluk, kebocoran data itu juga dipicu oleh kebutuhan saat harus menjaga kesehatan fisik dengan dorongan untuk meningkatkan penggunaan media sosial, baik untuk terhubung dengan orang, memberikan dukungan kepada komunitas, hiburan bagi diri sendiri, atau untuk mendapatkan produk dan layanan yang dibutuhkan. Kamluk mengungkapkan tren tersebut juga membuka pintu yang lebih luas bagi penjahat dunia maya untuk mengeksploitasi data pengguna. Lebih jauh, sambungnya, kebocoran data menyasar pada tujuh sektor dengan angka terbesar ada pada industri ringan, kemudian layanan publik, media dan teknologi, industri berat, konsultan, serta sektor keuangan dan logistik. Selain ketergantungan yang lebih besar pada internet, situasi pandemi juga menyediakan alat yang efektif bagi penjahat dunia maya. Alat tersebut yaitu umpan atau feedback yang dapat membuat satu klik email phishing dengan membagikan tautan berbahaya. Termasuk ransomeware di mana para aktor kejahatan siber mengaku telah mengambil data dan meminta uang tebusan dengan iming-iming data dikembalikan. Khusus modus kejahatan terakhir, Kamluk menyarankan untuk tidak berkompromi dengan pelaku. "Jika Anda mengikuti keinginan pelaku, ada kemungkinan Anda akan mendapat email pemerasan serupa. Kedua, dengan membayar tebusan berarti Anda juga ikut mensponsori industri kejahatan siber," ujar Kamluk. Hasil penelitian Kaspersky juga menunjukkan serangan brute force pada server database April 2020 tercatat meningkat hingga 23 persen. Sementara file berbahaya yang ditanam di situs web meningkat 8 persen, serta serangan jaringan dan email phishing juga meningkat. "Dari mendeteksi dan menganalisis 350.000 sampel malware unik sehari sebelum Covid-19, saat ini kami melihat total 428.000 sampel baru per jendela 24 jam," kata Kamluk. Pandemi Covid-19, menurut Kamluk, juga digunakan para aktor kejahatan siber sebagai "kail" untuk modus penipuan pesan atau email yang menjanjikan obat virus corona, bahkan mengatasnamakan pemerintah. Lanskap ancaman tahun 2020 meluas pada peristiwa geopolitik di seluruh Asia Pasifik, peningkatan pada e-commerce dan adopsi e-wallet, penerapan kerja jarak jauh yang berkelanjutan, hingga pembelajaran online serta tekanan emosional dan psikologis dari situasi tersebut. "Namun, harapan berada di tangan kita karena hanya kita sendiri yang mengendalikan aktivitas online . Perlu peningkatan kewaspadaan untuk melindungi identitas dan aset digital kita saat ini," ucap Kamluk. (riz/fin)

DAPATKAN UPDATE BERITA FIN LAINNYA DI Google News


admin

Tentang Penulis

Sumber: