Polri Tebar Fitnah, 58 Adegan Rekonstruksi Penembakan

Polri Tebar Fitnah, 58 Adegan Rekonstruksi Penembakan

JAKARTA - Polri menggelar rekonstruksi bentrok antara laskar Front Pembela Islam (FPI) dengan polisi di Tol Jakarta-Cikampek. Ada 58 adegan diperagakan dalam insiden baku-tembak yang menyebabkan 6 laskar FPI meninggal dunia. Rekonstruksi digelar pada Senin (14/12) dini hari di lokasi kejadian. Sekretaris Umum FPI Munarman menilai rekonstruksi yang digelar aparat kepolisian hanya menjadikan 6 korban laskar FPI menjadi tertuduh dan difitnah. Menurutnya, 6 laskar FPI itu tidak hanya mendapatkan kekerasan fisik, tapi juga kekerasan verbal. Kekerasan verbal itu, berupa fitnah.

BACA JUGA: Komnas HAM Diyakini Objektif Selidiki Kasus Penembakan Laskar FPI

"Pertama mereka kena kekerasan berupa serangan fisik yang mengakibatkan mereka meninggal syahid. Berlanjut kemudian kekerasan verbal, jadi dituduh difitnah bawa senjata, difitnah menyerang, difitnah sebagai pelaku ya, nah itu kekerasan verbal," tegas Munarman di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (14/12). Tidak hanya itu, 6 anggota Laskar FPI ini juga menjadi korban kekerasan struktural. "Lalu berlanjut lagi, yang paling gawat berupa mereka ini kekerasan struktural, artinya rekayasa kasus terhadap mereka seolah-olah bahwa mereka ini dengan instrumen kekuasaan dan SDM yang ada pada kekuasaan membuat mereka menjadi tertuduh dan pelaku. Jadi bukan korban," ujarnya. Selain itu, dia juga menyampaikan pesan Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab terkait tewasnya 6 laksar FPI.

BACA JUGA: Geledah Tas Dimas Ramadhan, Merry dan Nagita Slavina Temukan Benda Tak Lazim

"Tenang, ya beliau tetap gembira. Tersenyum. Bercanda. Dan beliau menyampaikan pesan bahwa jangan berhenti berjuang dan tidak boleh melupakan kasus pembantaian 6 syuhada. Harus terus dibongkar sampai ke akar akarnya," katanya. Ditambahkan Ketua Bantuan Hukum FPI Sugito Atmo Pawiro mendesak agar ada rekonstruksi dari tim independen untuk pengusutan kasus ini. "Silakan kepolisian melakukan rekonstruksi internal, tapi kami dari FPI menuntut supaya diberikan hak ada rekonstruksi ulang yang nantinya dari tim pencari fakta independen," ungkapnya. Dia mempertanyakan klaim polisi yang mengaku telah menemukan dua pucuk senjata api dan senjata tajam lain di mobil anggota laskar dalam insiden tersebut.

BACA JUGA: Waduh, KPK Terima Informasi Bansos Sembako Dipotong Rp100 Ribu Per Keluarga

Keberadaan tim pencari fakta independen, menurut Sugito, kelak bakal menjawab pelbagai pertanyaan dalam insiden ini. Salah satunya, soal kepemilikan senjata, apakah milik anggota laskar atau sekadar klaim polisi. "Tim independen juga sekaligus akan mengklarifikasi bahwa senpi tersebut jenis rakitan atau resmi," katanya. Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono menjelaskan ada 58 adegan dalam rekonstruksi yang dilakukan di empat lokasi kejadian. Lokasi pertama di depan Hotel Novotel, Jalan Karawang Internasional yang terdiri dari sembilan adegan rekonstruksi perkara. "Lokasi kedua, selepas bundaran Jalan Karawang Internasional hingga ke Gerbang Tol Karawang Barat arah Cikampek ke rest area KM 50 ada empat adegan," katanya.

BACA JUGA: Dirangkul dan Dicium Karen Nijsen, Netizen Doakan Gading Marten

Lokasi ketiga di rest area KM 50 yang terdiri dari 31 adegan. TKP terakhir, kata Argo yaitu di Tol Jakarta Cikampek selepas Rest Area KM 50 hingga KM 51 200, tim penyidik memperagakan 14 adegan. "Jumlah saksi yang dihadirkan tadi malam ada 28 orang. Sementara saksi berasal dari korban yang merupakan polisi ada empat orang," katanya. Menurutnya, barang bukti yang dihadirkan pada rekonstruksi, di antaranya dua unit mobil anggota, satu unit mobil tersangka, enam pasang pakaian tersangka, senjata tajam dan dua pucuk senjata api rakitan peluru 9 MM. "Dalam proses rekonstruksi malam ini setidaknya ada 58 adegan rekonstruksi," jelasnya. Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Brigadir Jenderal Andi Rian menambahkan polisi dan anggota FPI sudah terlibat baku tembak sejak di Jalan Internasional Karawang. Polisi akhirnya menangkap keenam anggota FPI yang menaiki mobil Chevrolet Spin di rest area KM 50 Tol Jakarta-Cikampek.

BACA JUGA: Ketika Masyarakat Hingga Anggota DPR Siap jadi Jaminan Penangguhan Habib Rizieq

"Namun, di rest area tersebut, dua anggota FPI diduga sudah tewas oleh baku tembak sebelumnya. Kedua tubuh anggota FPI itu kemudian diangkut dengan mobil Avanza milik polisi," katanya. Sementara itu, empat anggota FPI yang masih hidup dibawa dengan mobil Daihatsu Xenia menuju Polda Metro Jaya. Dalam mobil itu, ada tiga polisi yang mengawal. Dua polisi duduk di depan, satu polisi di tengah bersama satu anggota FPI, sementara tiga anggota FPI lainnya duduk di bangku belakang. "Mereka tidak diborgol, karena kita saksikan mereka ditaruh di belakang tiga, satu dibiarkan duduk di samping petugas di bagian tengah," lanjutnya. Dikatakannya, sekitar satu kilometer dari rest area, para anggota FPI melawan dan berupaya merebut senjata polisi. Karena itu, polisi akhirnya menembak mereka.

BACA JUGA: Pendukung HRS Ramai-ramai Minta Ditahan, Muannas: Pak Kapolri, Kabulkan Saja!

"Sehingga keempat pelaku dalam mobil mengalami tindakan tegas dan terukur dari anggota yang ada," ujarnya. Andi menjelaskan dalam rekonstruksi tersebut memang tidak menyertakan pihak FPI. Menurutnya, FPI tak punya kapasitas menjelaskan insiden tersebut. "Apa tujuannya ngundang FPI, memangnya dia tahu? Kalau dia tahu kejadian, biar kami panggil jadi saksi," tuturnya. Meski demikian, penyidikan sejauh ini masih berjalan. Sehingga, bukan tidak mungkin kepolisian bakal memanggil pihak-pihak FPI untuk dimintai keterangan. "Kalau mereka tahu terkait peristiwa ini, silakan ditunggu biar kami periksa jadi saksi," ucapnya.

BACA JUGA: HRS Ditahan, Non Muslim Ini Pertanyakan Kerumunan Acara Habib Lutfi bin Yahya

Andi juga menjelaskan bahwa satu rombongan FPI berhasil kabur sebelum masuk Jalan Tol Jakarta-Cikampek atau di TKP pertama di dekat bundaran Novotel, Mahakarya. "Itu tergambar di adegan pertama (rekonstruksi), di TKP pertama. Bahwa mobil anggota itu kan satu, mobil pelaku tuh ada dua, satu yang pertama kali menabrak mobil anggota kemudian dia melarikan diri, itulah yang diduga berisi diduga ya, berisi 4 orang laskar. Apakah isinya 4 atau lebih, kita nggak tahu juga kan," jelasnya. Saat bentrokan terjadi, kondisi di lokasi gelap dan sedang turun hujan. Jadi, anggota yang berada di lokasi tidak melihat jelas jumlah pengikut HRS yang kabur. "Enam (orang) itu muncul kalau nggak salah baca itu, Munarman dari pihak FPI bahwa ada 6 itu isinya (dalam satu mobil). Kalau anggota kan namanya gelap, kondisi hujan, kan pasti cuma melihat siluet-siluet saja nggak melihat jelas. Tapi yang jelas mobil itu menabrak mobil anggota pertama kali," tuturnya.

BACA JUGA: Infografis: Statistik Covid-19 di Indonesia Sabtu, 12 Desember 2020

"Kalau jumlah orangnya (yang kabur) belum (diketahui), tapi jumlah mobil yang mepet anggota, dua mobil yang menabrak mobil anggota itu," lanjutnya. Sementara itu, Ketua Harian Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Benny Mamoto hadir dalam rekonstruksi tersebut. Memperharikan rekonstruksi tersebut, dia mengatakan, adanya penyerangan aktif dari laskar FPI. "Terima kasih saya bisa ikut dari awal sampai akhir dan saya bisa menyaksikan sendiri bahwa memang benar terjadi penyerangan yang aktif menyerang dari kelompok itu, dari awal," ujar Benny. "Ini kiranya menjadi pemahaman kita bersama apa yang sesungguhnya terjadi," imbuhnya. Sedangkan Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik tak mau mengomentari lebih banyak soal rekonstruksi yang digelar Polri. dia mempersilakan Polri melakukannya.

BACA JUGA: Inul Daratista Tak Ingin Dipoligami, Reaksi Adam Suseno Bikin Ketawa Geli

"Kita menghormati rekonstruksi yang dibuat oleh pihak Polri. Itu kan versi mereka," katanya. Dikatakannya, Komnas HAM akan tetap melakukan penelusuran fakta, data dan juga memanggil sejumlah pihak yang berkaitan dengan kejadian tersebut. "Tentu Komnas HAM dengan mandat yang ada sebagai lembaga negara independen menelusuri menurut data, informasi, yang kami kumpulkan sendiri. Nanti kami kroscek juga kepada pihak kepolisian, pihak lain, termasuk saksi-saksi lapangan yang sudah kami temui," ujarnya. Terkait bukti-bukti dan fakta yang telah ditemukan Komnas HAM, Taufan belum bisa membukanya kepada publik. Saat ini bukti-bukti tersebut masih dianalisis dan terus dilakukan pemeriksaan terkait kebenarannya. "Kita tidak akan bicara tentang substansinya (bukti). Tapi tahapan itu sudah kita lakukan. Kita sudah tiga hari tiga malam ada di lapangan, mengkroscek semua bahan dan informasi-informasi," katanya. Taufan juga mengakui peristiwa bentrok berujung meninggalnya enam Laskar FPI ini menjadi tantangan berat bagi Komnas HAM. Terlebih Presiden Joko Widodo sendiri telah memberi kepercayaan kepada Komnas HAM untuk mengusut kasus tersebut. "Bagi kami itu satu tantangan yang berat, kami harus mengungkap apa yang sebenar-benarnya. Bukan apa yang dimau oleh pihak tertentu. Kan pihak tertentu maunya digiring ke sini, yang di sana lain lagi. Kami tidak mau," katanya.(gw/fin)

DAPATKAN UPDATE BERITA FIN LAINNYA DI Google News


admin

Tentang Penulis

Sumber: