Waspadai Super Spreader di Keluarga

Waspadai Super Spreader di Keluarga

JAKARTA - Protokol kesehatan harus benar-benar dijaga dalam klaster keluarga. Selama ini, masyarakat menganggap lingkungan keluarga adalah yang paling aman dari penularan COVID-19. Padahal, masih memiliki ada risiko penularan. Bahkan, anggota keluarga bisa menjadi super spreader. "Klaster keluarga muncul pada September 2020. Ketika orang menganggap keluarga adalah tempat yang paling aman. Tetapi tetap tidak steril dari kemungkinan virus masuk ke rumah. Karena masih ada kemungkinan anggota keluarga yang tertular kemudian kembali ke rumah," kata dokter spesialis paru dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) dokter Anna Rozaliyani di Jakarta, Senin (28/12). Setiap anggota keluarga yang berkegiatan di luar rumah, lanjutnya, wajib menerapkan protokol kesehatan dengan benar. Tujuannya agar tidak pulang dengan membawa virus. Terlebih ada kemungkinan anggota keluarga yang terkonfirmasi positif COVID-19. Namun tidak menimbulkan gejala. Sehingga merasa sehat-sehat saja. Tetapi masih dapat menularkan anggota keluarga lain di rumah. "Sebaiknya setelah berkegiatan di luar sampai rumah tidak melakukan apa-apa dulu. Langsung mandi, membersihkan diri," imbuh dokter yang menangani pasien COVID-19 di RS Darurat Wisma Atlet tersebut. Dia menyebut anggota keluarga bisa menjadi super spreader. Yaitu pembawa virus dan bisa menularkan ke banyak anggota keluarga tanpa tahu dirinya sedang terinfeksi. "Anak-anak bisa saja menjadi super spreader tersebut. Ini juga harus diwaspadai. Karena itu, disiplin 3M (Memakai Masker, Mencuci Tangan, Menjaga Jarak) tidak boleh dilupakan. Selalu terapkan protokol kesehatan dimanapun dan kapanpun," ucapnya. Anna meminta masyarakat, khususnya kelompok yang berisiko tinggi ketika tertular, untuk tetap menerapkan protokol kesehatan dengan disiplin. "Kasus berat dan kematian meningkat pada orang dengan penyakit penyerta. Seperti jantung, diabetes melitus, penyakit paru kronis, hipertensi, kanker, dan usia di atas 60 tahun. Satu lagi kondisi yang memperburuk. Yaitu obesitas atau kegemukan," pungkasnya. (rh/fin)

DAPATKAN UPDATE BERITA FIN LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Sumber: