Deteksi Virus Baru dengan Genomik 

Deteksi Virus Baru dengan Genomik 

JAKARTA - Pemerintah diminta tak hanya membatasi penerbangan langsung pada negara-negara tertentu. Tetapi juga membatasi penumpang pesawat dari luar negeri masuk Indonesia. Pengamatan genomik diperlukan untuk deteksi jenis virus. "Pelarangan penerbangan yang sekarang dilakukan dinilai kurang tepat. Karena virus bisa datang dari mana saja. Seolah-olah virus itu cuma ada di Inggris. Padahal bisa saja ada dari kota atau negara lain juga," kata Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono di Jakarta, Senin (28/12).

BACA JUGA: Istri Ustaz Maaher Ajukan Penangguhan Penahanan Sang Suami ke Bareskrim Polri

Seperti diketahui, sejumlah negara di dunia sudah membatasi penerbangan dari Inggris. Ini dilakukan, sebagai langkah memastikan virus corona jenis baru yang menyebar di selatan Inggris tidak meluas ke seluruh dunia. Di Indonesia, Kementerian Perhubungan resmi melarang warga negara asing asal Inggris memasuki wilayah Indonesia. "Seharusnya setiap penumpang, setiap orang. Mau itu warga negara Indonesia atau warga negara asing. Kalau dia membawa virus harus diisolasi yang kemungkinan genetik virusnya juga harus diperiksa," jelas Pandu. Upaya konkret yang dapat dilakukan mencegah masuknya virus corona jenis baru adalah membangun sistem pengawasan genomik atau genomic surveilance.

BACA JUGA: Cristiano Ronaldo Tidak Akan Paksa Anaknya Berkarir Sebagai Pesepak Bola

Setiap orang yang baru pulang dari luar negeri, wajib dites COVID-19. Apabila positif, mereka harus dikarantina dan menguji genetik virusnya. Ini untuk mengetahui apakah virus sudah bermutasi atau belum. "Selain melakukan surveilans epidemiologi, mengamati, menghitung, atau mempelajari berapa orang yang sudah terinfeksi, berapa orang yang meninggal dunia. Kita juga harus backup dengan genomic surveillance. Ini yang belum terjadi di Indonesia. Tetapi, harus diwujudkan," paparnya. Pengamatan genomik, lanjutnya, menjadi standar baru untuk analisis, kewaspadaan, dan pengendalian pantogen. Di Indonesia, sistem ini belum diterapkan. Karena terkendala pendanaan, jejaring, dan perencanaan. Keputusan menggalakkan sektor pariwisata guna mendongkrak perekonomian dianggap langkah dilematis. Mengingat kegiatan itu dapat memicu penyebaran virus lebih cepat. "Disiplin 3M (Memakai Masker, Mencuci Tangan, Menjaga Jarak) memang tetap harus dilakukan. Ini sangat penting. Karena protokol kesehatan bisa mencegah terjadinya penularan. Ini yang harus terus menerus disampaikan," tandasnya. (rh/fin)

DAPATKAN UPDATE BERITA FIN LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Sumber: