Keuangan Syariah Peringkat ke-2 Dunia

Keuangan Syariah Peringkat ke-2 Dunia

JAKARTA - Kabar menggembirakan, posisi keuangan syariah Indonesia masuk peringkat ke-2 di dunia. Hal ini berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh Rafinity Islamic Finane Development Report 2020. "Kita ranking ke-2 secara global sebagai terutama didukung oleh tingginya riset dan kelengkapan regulasi serta industri keuangan syariah serta mungkin perkembangan bisnis keuangan syariah itu sendiri," kata Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso dalam video daring, kemarin (29/12).

BACA JUGA: Haikal Hasan Ditanya Bukti Mimpi Rasulullah, Refly Harun: Yang Bermasalah Itu Orang yang Melapor

Ia menyebut, Indonesia berada di peringkat kedua, setelah negara tetangga Malaysia. Kemudian di bawah Indonesia atau di urutan ketiga ada Bahrain, keempat UAE dan kelima Saudi Arabia. Sementara itu, dalam laporan Global Islamic Economy Indicator (GIEI) 2020/2021, Indonesia ditempatkan pada ranking global keempat untuk sektor Islamic Economy dan ranking keenam untuk indikator Islamic Finance. Untuk sektor Islamic Economy, Indonesia masih tertinggal di bawah negara Malaysia, Saudi Arabia dan UAE. Sementara untuk sektor Islamic Finance Indonesia berada di bawah Malaysia, UAE, Saudi Arabia, Jordan, dan Bahrain.

BACA JUGA: Menparekraf: Silang Pendapat Soal Wisata Halal dan Religi Sudah Capai Titik Temu

"Kita harus bekerja keras untuk menjadi nomor satu di dunia. Kami yakin itu bisa Indonesia mempunyai potensi yang besar penduduknya banyak,'' ucapnya. Menteri Keuangan Sri Mulyani sebelumnya memaparkan, total aset keuangan syariah di Indonesia mencapai Rp1.710,16 triliun pada September 2020. Ia merinci aset keuangan syaroah meliputi yakni aset perbankan syariah sebesar Rp575,85 triliun, industri keuangan bukan bank syariah sebesar Rp111,44 triliun dan pasar modal syariah sebesar Rp1.022,87 triliun. "Selama tiga dasawarsa terakhir sejak berdirinya bank syariah pertama di Republik Indonesia yaitu pada tahun 1992, keuangan syariah berkembang cukup mengesankan," kata bendahara negara ini.

BACA JUGA: Aa Gym Positif Corona, Denny Siregar: Gimana Mau Jokowi atau Aa yang Divaksin Duluan?

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menyampaikan, di tengah krisis sekarang ini kinerja perbankan syariah justru stabil dan tumbuh lebih tinggi dibandingkan bankan konvensional. Ia mencatat, hingga September 2020 aset perbankan syariah tumbuh sebesar 10 97 persen, sementara perbankan konvensional pertumbuhannya hanya 7,77 persen. Demikian juga dengan dana pihak ketiga yang tumbuh 11,56 persen. Sedikit di atas kenaikan dana pihak ketiga dari perbankan konvensional yang tumbuh 11,49 persen. Sedangkan untuk penyaluran pembiayaan atau kredit perbankan syariah tumbuh 9,42 persen. Ini jauh lebih tinggi karena pertumbuhan kredit perbankan konvensional yang mengalami penurunan yaitu hanya tumbuh 0,55 persen. "Artinya bahwa industri terutama perbankan syariah memang memiliki posisi yang cukup stabil dan memiliki juga loyalitas dari keseluruhan ekosistemnya," tukasnya. (din/fin)

Sumber: