Rupiah Menguat, Imbas dari Kekhawatiran Omicron yang Berkurang 

Rupiah Menguat, Imbas dari Kekhawatiran Omicron yang Berkurang 

    JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat pada Rabu (8/12/2021), seiring dengan meredanya kekhawatiran pada varian Omicron virus Corona, dan meningkatnya Cadangan Devisa Indonesia pada November 2021. Mengutip data Bloomberg, Rabu (8/12/2021), pukul 15.00 WIB, kurs rupiah ditutup pada level Rp14.357 per dolar AS. Posisi tersebut menunjukkan penguatan 21 poin atau 0,15 persen apabila dibandingkan dengan posisi penutupan pasar spot pada Selasa sore kemarin (7/12/2021) di level Rp14.378 per dolar AS. Demikian pula dengan kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang menempatkan rupiah di posisi Rp14.348 per dolar AS atau menguat dari Rp14.408 per dolar AS pada Selasa kemarin. [caption id="" align="alignnone" width="1012"] Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (TradingView)[/caption] Direktur PT. TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatanyang terjadi pada rupiah itu sejalan dengan pelemahan indeks dolar AS hari ini. "Penyebabnya adalah turunnya imbal hasil US Treasury dan investor sekarang menunggu data inflasi AS dan China yang akan dirilis di hari Kamis dengan indeks harga konsumen AS menyusul sehari setelahnya," ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis hari ini. Selain itu, selera investor pada aset-aset berisiko meningkat karena ada indikasi bahwa varian omicron COVID-19 tidak terlalu parah. "Meskipun vaksin yang ada tidak mampu memberikan perlindungan penuh," ungkap Ibrahim. BACA JUGA: BPK: Utang Pemerintah Lampaui Pertumbuhan PDB dan Rekomendasi IMF Sejumlah ahli mengungkapkan, laporan awal virus B.1.1.529 atau varian Omicron virus korona menunjukkan bahwa varian ini menyebabkan gejala penyakit yang "lebih ringan" dibandingkan varian Delta. Hal itu dibuktikan dengan pengakuan para dokter di Afrika Selatan yang menyebut bahwa varian Delta masih menjadi strain virus korona yang mendominasi. Selain itu, tingkat rawat inap di Afrika Selatan belum meningkat secara signifikan setelah varian Omicron diidentifikasi, seperti dilansir dari Web MD, Senin (6/12/2021). "Sejauh ini, sepertinya tidak ada tingkat keparahan yang besar (akibat varian Omicron)," ujar direktur di National Institute of Allergy and Infectious Diseases Amerika Serikat, dr Anthony Fauci. Dari dalam negeri, pelaku pasar terus memantau tentang perkembangan posisi cadangan devisa di bulan November 2021 yang mengalami peningkatan, setelah pada bulan Oktober 2021 mengalami penurunan. Ini menjadi sentimen positif yang membantu penguatan kurs rupiah hari ini. Bank Indonesia (BI) mencatat, cadangan devisa pada bulan laporan sebesar USD145,9 miliar atau naik tipis USD0,4 miliar dari posisi bulan sebelumnya yang sebesar USD145,5 miliar. "Peningkatan posisi cadangan devisa pada November 2021 dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa sentra penarikan pinjaman luar negeri pemerintah," ujar Direktur Eksekutif, Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangannya, Selasa (7/12/2021). Erwin mengungkapkan, posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 8,3 bulan impor atau 8,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Ini pun berada di atas standard kecukupan internasional yang sekitar 3 bulan impor. "Kondisi cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan," pungkas Ibrahim.   Sedangkan untuk perdagangan besok, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah kemungkinan  dibuka  berfluktuatif, namun  ditutup menguat di rentang Rp14.330 - Rp14.380 per dolar AS. (git/fin)  

Sumber: