Kekhawatiran Penyebaran Omicron Mereda, Harga Minyak Tancap Gas

Kekhawatiran Penyebaran Omicron Mereda, Harga Minyak Tancap Gas

    JAKARTA - Harga minyak berakhir lebih tinggi dalam sesi yang fluktuatif, Rabu, mempertahankan nada positif karena investor tidak lagi memperkirakan varian Omicron virus corona akan menggagalkan pertumbuhan ekonomi global. Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup naik 38 sen atau 0,5 persen menjadi USD75,82 per barel, sementara patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), meningkat 31 sen atau 0,4 persen menjadi USD72,36 per barel. Demikian dikutip dari laporan  Reuters,  di New York, Rabu (8/12/2021) atau Kamis (9/12/2021) pagi WIB. [caption id="" align="alignnone" width="1012"] Pergerakan harga minyak Brent Internasional TradingView)[/caption] Brent rebound sekitar 10 persen sejak 1 Desember didorong ekspektasi bahwa Omicron hanya akan berdampak terbatas pada permintaan minyak, setelah anjlok 16 persen sejak 25 November. Studi awal menunjukkan dua suntikan vaksin Pfizer-BioNTech mungkin melindungi hanya sebagian terhadap Omicron, tetapi dosis ketiga dapat meningkatkan perlindungan itu. BACA JUGA: Jelang Rilis Data Inflasi AS, Harga Emas Flat "Beberapa kekhawatiran terkait Omicron terhadap permintaan minyak mungkin terlalu pesimistis, dan karenanya dengan beberapa berita positif terkait Omicron yang dirilis dalam beberapa hari terakhir, harga minyak pulih kembali," kata Giovanni Staunovo, analis UBS. [caption id="" align="alignnone" width="1012"] Trend harga minyak berjangka West Texas Intermediate (WTI). (TradingView)[/caption] Pasar tidak terlalu bereaksi terhadap data inventaris mingguan Amerika. Stok minyak mentah turun 240.000 barel dan stok bensin serta produk sulingan meningkat karena penyulingan menaikkan produksi. Namun, pada saat bersamaan, produk AS yang dipasok oleh kilang, yang mewakili permintaan, mencapai 20,9 juta barel per hari selama empat minggu terakhir - melebihi tingkat penggunaan konsumen sebelum pandemi. Pasar memperkirakan pasokan akan melebihi permintaan pada awal 2022, karena meningkatnya produksi Amerika dan penambahan pasokan yang berkelanjutan dari Timur Tengah. BACA JUGA: CPO RI Sumbang 40 Persen Produksi Minyak Nabati di Dunia Pada akhirnya, Organisasi Negara Eksportir Minyak dan sekutunya termasuk Rusia, yang dikenal sebagai OPEC Plus, memilih untuk mempertahankan jadwalnya guna meningkatkan pasokan 400.000 bph setiap bulan - meski ada kekhawatiran varian baru itu akan melemahkan permintaan. Gedung Putih dan Teheran memulai kembali pembicaraan mengenai program nuklir Iran, tetapi kesepakatan untuk menghidupkan kembali kesepakatan 2015 yang membatasi pengembangan nuklir Iran masih jauh, dan pejabat Barat menyuarakan kekecewaan atas tuntutan Iran yang meluas. Ketegangan antara kekuatan Barat dan Rusia atas Ukraina juga tetap tinggi setelah Presiden Joe Biden memperingatkan Presiden Rusia Vladimir Putin, Selasa, bahwa Barat akan memberlakukan tindakan ekonomi dan lainnya yang kuat pada Rusia jika menyerang Ukraina, sementara Putin menuntut jaminan bahwa NATO tidak akan memperluas pengaruhnya lebih jauh ke arah timur. (git/fin)

DAPATKAN UPDATE BERITA FIN LAINNYA DI Google News


admin

Tentang Penulis

Sumber: