Kelakuan Pemerkosa 12 Santriwati Bikin Geram, Anak yang Lahir Dijadikan Alat Meraup Donasi

Kelakuan Pemerkosa 12 Santriwati Bikin Geram, Anak yang Lahir Dijadikan Alat Meraup Donasi

BANDUNG – Kelakuan Herry Wirawan benar-benar bikin geram. Bukan hanya memperkosa santriwati, anak yang lahir dari hubungan itu, dijadikan alat untuk meraup donasi. Sejumlah fakta itu terungkap dari pemantauan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Diketahui, Herrry Wirawan juga melakukan eksploitasi kepada para korban dan mempekerjakan mereka sebagai kuli bangunan saat pembangunan ponpes. “Korban dipekerjakan sebagai kuli bangunan saat membangun gedung pesantren di Cibiru,” demikian disampaikan keterangan resmi LPSK. Tidak hanya itu, Herry Wirawan mendaftarkan 8 dari 9 bayi yang dilahirkan para santriwati sebagai yatim piatu. Bayi-bayi malang tersebut, digunakan dia untuk meminta sumbangan kepada sejumlah pihak. Sedangkan kepada para korban, dia melakukan tipu daya dengan janji-janji biaya pendidikan hingga menikahi korban. Kejahatan Herrry tidak sampai di situ. Dia juga melakukan penggelapan dana bantuan operasional sekolah (BOS). Hingga dana pendidikan Indonesia Pintar, yang seharusnya menjadi hak para santri. Seperti diketahui, rentetan pemerkosaan yang dilakukan Herry dimulai sejak 2016 hingga 2021. Tujuh santri dihamili bahkan melahirkan dua kali. Sehingga jumlah bayi yang telah dilahirkan mencapai 9 orang. Tak berhenti sampai disitu, berdasarkan keterangan Pelaksana Tugas (Plt) Asisten Pidana Umum Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Barat (Jabar), Riyono SH MHum, ada dua bayi lain yang masih dalam kandungan. Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan jumlah bayi yang dilahirkan bakal berjumlah 11. Delapan bayi sebelumnya diketahui pada tahap pra penuntutan. Kemudian ketika masuk ke persidangan, bertambah 1 bayi lagi yang dilahirkan. Kasipenkum Kejati Jawa Barat menuturkan, kasus pencabulan dengan terdakwa Herry, dilimpahkan kepada PN Bandung pada 3 November 2021 dengan Surat Nomor: B-5069/M.2.10.3/Eku.2/11/2021. Penetapan Pengadilan Negeri Bandung Nomor 989/Pid.Sus/2021/PN.Bdg tanggal 3 November 2021 menentukan sidang pada hari Kamis tanggal 11 November 2021. Akibat perbuatannya, terdakwa HW didakwa melanggar pasal berlapis. Dakwaan primair, Pasal 81 ayat (1), ayat (3) jo Pasal 76D UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo Pasal 65 ayat (1) KUHP. Sedangkan dakwaan subsidair, Pasal 81 ayat (2), ayat (3) jo Pasal 76D UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo Pasal 65 ayat (1) KUHP. (yud/radarcirebon)

DAPATKAN UPDATE BERITA FIN LAINNYA DI Google News


admin

Tentang Penulis

Sumber: