Ekonomi Indonesia 2021 Cukup Resilient di Tengah Kondisi Pandemi

Ekonomi Indonesia 2021 Cukup Resilient di Tengah Kondisi Pandemi

  JAKARTA - Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Perumusan Kebijakan Fiskal dan Makroekonomi, Masyita Crystallin mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada 2021 cukup resilient.. Hal ini terbilang sangat baik mengingat pada 2021 kasus covid jauh meningkat dibandingkan tahun lalu. Hal itu disampaikan dalam acara Peluncuran Laporan ‘Dampak Sosial Ekonomi COVID-19 terhadap Rumah Tangga di Indonesia: Tiga Putaran Survei Pemantauan Cepat’ yang diselenggarakan oleh SMERU, PROSPERA, UNDP dan UNICEF pada Jumat (10/12/2021). Secara ageregat, ekonomi nasional menunjukkan kinerja positif dan jauh lebih baik dibanding kondisi periode sama tahun 2020. Sampai dengan kuartal III tahun 2021 ekonomi tumbuh positif sebesar 3,2 persen dari minus 2 persen pada tahun lalu. Dari sesi sektoral, kinerja sektor perdagangan juga tumbuh sebesar 4,3 persen dari sebelumnya minus 3,7 persen. Sektor manufaktur dan konstruksi juga tumbuh positif pada tahun ini dari sebelumnya tumbuh negatif pada tahun lalu. Sektor transportasi, yang tahun lalu terdampak dalam oleh pandemi sebesar minus 16,6 persen juga tumbuh positif sebesar 1,6 persen pada tahun ini. Inflasi di Indonesia secara year on year juga cukup stabil di angka 1,7 persen dibandingkan dengan Meksiko dan Amerika Serikat yang menyentuh level 6,2 persen. Inflasi ini harus terus juga ke depan karena berhubungan dengan Ketahanan Pangan. Ketahanan pangan dan harga volatile food perlu dijaga karena hal ini sangat berdampak pada keluarga rentan. "Secara umum, penanganan Covid tahun ini sangat luar biasa. Dari kasus positif tertinggi terjadi pada 15 Juli 2021 hingga mencapai angka di atas 56.757 hingga hanya mencapai angka 220 kasus positif terkonfirmasi pada hari ini. Pemerintah betul-betul menjaga agar penanganan covid baik dari sisi kesehatan dan ekonomi tetap terjaga," ujar Masyita. BACA JUGA: BI: Penjualan Ritel Periode November 2021 Tumbuh 10,1 Persen Masyita mengatakan, keuangan negara menjadi penggerak pemulihan ekonomi terkuat di masa pandemi tahun lalu dan tahun ini mulai beralih ke sektor swasta seiring dengan pemulihan ekonomi. Beberapa indikator konsumsi dan produksi juga menunjukkan angka yang positif. Dari sisi konsumsi, consumer confidence index menunjukkan angka yang membaik sampai dengan Oktober 2021. Dari sisi produksi, konsumsi listrik juga menunjukkan pertumbuhan sebesar 8,1 persen. Tingkat Konsumsi listrik penting untuk diperhatikan karena terdapat keterkaitan antara konsumsi listrik dengan kesejahteraan. Konsumsi listrik yang tumbuh juga menunjukan bahwa ekonomi bergerak, pabrik-pabrik kembali beroperasi. Disamping hal tersebut, PMI Manufaktur Indonesia juga terus berekspansi bahkan sempat menyentuh rekor tertinggi di atas angka 57,2. Sebagai informasi saja, pada tahun 2022, APBN akan terus mendukung berbagai bidang pembangunan seperti peningkatan kualitas SDM dan dukungan pemulihan ekonomi dan reformasi struktural. Anggaran untuk penanganan pandemi bidang kesehatan dan perlindungan kepada masyarakat tetap akan menjadi prioritas pada tahun 2022. Penanganan pandemi di bidang kesehatan dianggarkan sebesar Rp 115,9 triliun dengan peruntukan seperti testing, tracing, treatment, perawatan pasien covid, vaksinasi, insentif nakes pusat dan daerah dan antisipasi kesehatan lainnya. Penanganan pandemi di bidang perlindungan masyarakat juga dianggarkan sebesar Rp 153,7 triliun dengan perkiraan pemanfaatan seperti untuk PKH, kartu sembako, dan kartu prakerja. (git/fin)

DAPATKAN UPDATE BERITA FIN LAINNYA DI Google News


admin

Tentang Penulis

Sumber: