Jurus Pemerintah Genjot Produktifitas UMKM Berorientasi Ekspor

Jurus Pemerintah Genjot Produktifitas UMKM Berorientasi Ekspor

  JAKARTA - Pemerintah menyiapkan strategi khusus untuk meningkatkan kapasitas dan produktifitas Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang berorientasi ekspor. Hal itu disampaikan oleh Deputi Bidang UKM KemenkopUKM Hanung Harimba Rachman, Sabtu (3/4). Hanung mengatakan, pelaku UMKM di Indonesia memiliki beberapa permasalahan, seperti bidang manajemen, organisasi, teknologi, permodalan, operasional, dan teknis di lapangan, terbatasnya akses pasar, kendala perizinan, serta biaya-biaya non teknis di lapangan yang sulit untuk dihindarkan. Menurut Hanung, jika di Identifikasi beberapa permasalahan dan kesulitan usaha yang dihadapi, antara lain masalah permodalan (51,09 persen,) pemasaran 34,72 persen, Bahan Baku 8,59 persen, Ketenagakerjaan 1,09 persen, Distribusi Transportasi 0,22 persen dan lainnya 3,93 persen. "Disisi lain, dua target besar Kementerian Koperasi dan UKM terhadap KUMKM adalah peningkatkan ekspor yang signifikan dan masuk dalam rantai pasok nasional, regional dan global," kata Hanung. Hanung memaparkan, rendahnya kinerja ekspor UMKM Indonesia dilatarbelakangi oleh beberapa tantangan. Diantaranya akses terhadap informasi pasar sangat rendah, serta baru 16 persen UMKM yang terhubung dengan ekosistem digital. Tantangan lainnya adalah keterbatasan skala kapasitas usaha dan standar produk, tingginya biaya transaksi dan kontrak dan rendahnya akses pembiayaan dimana hanya 19,41 persen yang terakses dengan lembaga pembiayaan dan tingginya biaya logistik. "Berangkat dari hal itu KemenkopUKM memiliki sejumlah strategi untuk meningkatkan ekspor UMKM, antar lain dengan mengembangkan market driven/ intelligence. Melalui cara ini, UMKM akan mudah mendapat akses informasi, melibatkan ahli untuk kurasi champion sehingga dapat masukan untuk memperbaiki produk, digitalisasi UMKM," ungkap Hanung. Sementara itu, pandemi yang terjadi saat ini, sedikit banyak memengaruhi seluruh sektor kehidupan. Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional yang salah satunya dilakukan adalah melalui peningkatan ekspor produk-produk UMKM, sebab UMKM yang jumlahnya 64,1 juta unit diharapkan menjadi katub pengaman, sebagai buffer (penyangga) perekonomian Indonesia. "Sejauh ini jumlah UMKM yang lebih dari 64 juta unit usaha hanya bisa memberikan kontribusi terhadap ekspor sebesar 14,37 persen dibandingkan dengan Usaha besar yang berjumlah 5.550 unit usaha, berkontribusi terhadap ekspor sebesar 85,63 persen. Hanung menegaskan menjadi hal yang sangat penting dengan pemasaran, sebab UMKM masa depan ini harus bisa merespon pasar, dengan memiliki kecakapan di bidang teknologi, mempunyai value creation, menjadi usaha yang market driven, mengenal pasar dan perubahan-perubahan serta inovatif, agar produk yang diciptakan bisa menjawab kebutuhan pasar. "Dari pengalaman, UMKM yang eksis dan survival adalah yang terhubung dengan ekosistem digital, dengan memanfaatkan platform e-commerce, marketpalace. Sudah saatnya UMKM bertransformasi ke digital. Penetrasi digitalisasi, bagi UMKM akan mendapatkan margin lebih dan memangkas mata rantai penjualan,'' tuturnya. Hanung menambahkan, program pelatihan dengan beberapa materi, kurikulum, bahan ajar telah disiapkan untuk memenuhi kebutuhan UKM, terutama UKM yang akan melakukan ekspor, sehingga dapat meningkatkan ilmu, baik tatakelola usaha, pencatatan keuangan, pemasaran, business plan dan pengurusan dokumen ekspor. "Saya berharap dengan pelatihan Ekspor akan menambah jumlah eksportir-eksportir baru," pungkasnya. (git/fin)

DAPATKAN UPDATE BERITA FIN LAINNYA DI Google News


admin

Tentang Penulis

Sumber: