Penguatan Harga Komoditas Masih Berlanjut Tahun Depan, Saham Energi Beneran Prospektif Nih?

Penguatan Harga Komoditas Masih Berlanjut Tahun Depan, Saham Energi Beneran Prospektif Nih?

    JAKARTA - Momentum kebangkitan harga komoditas energi yang terjadi sejak kuartal III-2021 diperkirakan masih akan berlanjut hingga 2022. Sejumlah emiten energi disebut¬† masih memiliki prospek bisnis yang menjanjikan tahun 2022. Hal itu disampaikan oleh Founder Demokrasi Saham, Hermanto Sardan, dikutip Senin (13/12/2021). Menurut Hermanto, bisnis energi masih akan prospektif seiring dengan pulihnya aktivitas ekonomi dan pertumbuhan ekonomi nasional. "Dengan catatan ini tidak ada lonjakan kasus baru Covid-19 tahun depan. Karena faktor tersebut di luar kekuasaan kita semua," kata Hermanto Hermanto menegaskan bisnis energi fosil masih menjadi kebutuhan yang kuat dalam jangka pendek. Walau dia mengakui transisi energi dari fosil ke energi baru terbarukan merupakan sebuah keniscayaan dalam jangka panjang. "Tetapi belum ada emiten yang kuat di bidang energi alternatif saat ini. Ada dua emiten kecil yakni JSKY dan ETWA," ujar Hermanto. Hermanto menyebut ada sejumlah emiten energi yang memiliki peluang kinerja menjanjikan dan layak menjadi pertimbangan investor saham, antara lain PTBA, ITMG, ADRO, INDY, HRUM, UNTR, MEDC, PGAS, ABMM, MBAP, HEXA, MBSS, PTRO dan KOBX. "Emiten lain belum ada yang menarik," jelas Hermanto. BACA JUGA:¬†Transaksi Harian Sepekan Terakhir di BEI Terkoreksi 1,77 Persen Jadi Rp15,3 Triliun Secara khusus, Hermanto menyoroti PTBA yang mencatatkan kinerja terbaik sepanjang masa, meski memiliki kendala produksi pasca pandemi. Penjualan, EBITDA, net profit PTBA saat ini adalah yang terbesar sepanjang sejarah. "Jika harga tidak berubah dengan DPR (dividend payout ratio) 90 persen seperti 2019, dividen yang dibayarkan tahun depan bisa mencapai 15 persen dari yield," tutur Hermanto. Ia juga percaya bahwa isu environmental, social, and governance (ESG) tidak akan banyak mempengaruhi kinerja saham emiten energi fosil. Menurutnya, cita-cita global memang mengarah pada investasi di industri yang ramah lingkungan, memiliki tanggung jawab sosial, dan pertumbuhan berkelanjutan. "Tetapi hingga saat ini belum ada korelasi antara proses valuasi dari 3 besar rating provider dunia terkait ESG," pungkas Hermanto. (git/fin)

admin

Tentang Penulis

DAPATKAN UPDATE BERITA FIN LAINNYA DI

google news icon

Sumber: