Civitas FIKOM Universitas Esa Unggul Ikuti Seminar Artificial Intelegence

Civitas FIKOM Universitas Esa Unggul Ikuti Seminar Artificial Intelegence

JAKARTA - Universitas Esa Unggul yang diwakili oleh Ibu Erna Febriani Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Esa Unggul dan ketiga mahasiswa dari Fikom yaitu Nadila M. Saleh, Anastasya Margaretta, dan Anak Agung Indah Pitasari mengikuti seminar nasional dengan tema, ”Pelibatan Artificial Intelligence di Perbatasan guna Menjaga Kedaulatan Negara” yang bertempat di Aula Pusjianstra TNI, yang diselenggarakan oleh Pusat (Pengkajian Strategi) Pusjianstra TNI, Rabu (07/03). Seminar ini dilaksanakan secara offline, dengan tetap mematuhi dan mengikuti protokol kesehatan yang berlaku, dimana setiap pembicara, peserta, panitia dan segala pihak yang terlibat dalam pelaksanaan seminar di Swab Antigen dan dinyatakan negatif terlebih dahulu sebelum memasuki Aula Pusjianstra TNI. Salah satu Mahasiswa Fikom UEU, Nadila yang mengikuti acara tersebut mengatakan, sangat membuka pelajaran dan pengalaman baru bagi dirinya mengenal kegunaan Artificial Intellegence dalam menjaga kedaulatan. "Karena selama ini teknologi AI hanya identik dengan data, sistem informasi dan komputasi, tapi dengan seminar ini saya dapat mengetahui tentang cara lain menjaga kedaulatan Indonesia, salah satunya dengan Artificial Intellegence," ucapnya . Nadila pun memberikan sesi tanya jawab kepada pembicara kedua yaitu Colonel Assist. Prof. Dr. Ir. Arwin Datumaya Wahyudi Sumari, S.T., M.T., IPM, ASEAN Eng terkait Strategi Pertahanan dan keamanan yang berhubungan dengan masyarakat Indonesia yang beragam. Dr. Muhammad Rifqi Muna, sebagai pembicara pertama membahas tentang Artificial Intelligence di Perbatasan yang dilihat dari aspek strategis dan kebijakan. Dalam pembahasannya, Dr. Muhammad Rifqi Muna membahas tentang wawasan nusantara dan AI atau kecerdasan buatan yang bukan merupakan hal baru, namun menjadi teknologi disruptive yang berpengaruh pada hamper seluruh sector baik militer maupun non militer. “AI bukan hanya urusan teknis coding dalam ilmu computer, namun AI mesti berdasar kepada etika dan kemanusiaan dan teknologi AI dikembangkan untuk membantu manusia lebih cerdas, bukan sebaliknya” ucapnya. Colonel Assist. Prof. Dr. Ir. Arwin Datumaya Wahyudi Sumari, S.T., M.T., IPM, ASEAN Eng, salah satu pembicara kedua membahas tentang Knowledge Growing System and Its Applications for Military yang merupakan Suatu sistem yang mampu menumbuhkan ilmunya sendiri sebagai pertambahan informasi yang diterimanya seiring berjalannya waktu. “Human intelligence that is emulated through mathematical models translated into instruction codes by a programming language to make them understandable by computer” atau “Kecerdasan Buatan yang menerapkan Kognitif pendekatan dalam membangun sistem yang mampu menumbuhkan ilmunya sendiri dengan melakukan interaksi dengan lingkungan,” paparnya. Sementara itu pembicara ketiga, Brigjen TNI Ir. Asep Edi Rosidin, MDA Direktur Topografi TNI AD yang membahas terkait Pemanfaatan Artificial Intelligence Geospasial (GEO-AI) dalam pengamanan Perbatasan Negara. Dirinya menambahkan tantangan dalam pengamanan perbatasan sehingga perlunya integrasi informasi modern, pentingnya teknologi kecerdasan buatan yang dapat membantu memilah dan mengumpulkan data serta mempercepat dalam proses computing dan analisis informasi yang diharapkan dan GEO-AI yang dapat memaksimalkan pengamanan perbatasan yang cepat, akurat dan komprehensif. Setelah sesi Tanya jawab Seminar ditutup oleh moderator yang membacakan kesimpulan materi serta diskusi dan diakhir acara seluruh peserta dan pembicara berdiri untuk menyanyikan lagu Bagimu Negeri dan selanjutnya acara Seminar Nasional ditutup dengan foto bersama. (nrm/rls/fin)

DAPATKAN UPDATE BERITA FIN LAINNYA DI Google News


admin

Tentang Penulis

Sumber: