Perbuatannya Sudah Terbukti di Sidang Etik, ICW Nilai Lili Pintauli Pantas Diproses Hukum

Perbuatannya Sudah Terbukti di Sidang Etik, ICW Nilai Lili Pintauli Pantas Diproses Hukum

JAKARTA - Indonesia Corruption Watch (ICW) menilai Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Lili Pintauli Siregar, pantas untuk segera diproses hukum. Menurut ICW, dugaan komunikasi antara Lili dengan M Syahrial, pihak berperkara di KPK, sudah terbukti berdasarkan persidangan etik oleh Dewan Pengawas (Dewas) KPK beberapa waktu lalu. Perbuatan itu pun telah dilaporkan ICW ke Bareskrim Polri karena dinilai melanggar hukum. "Perbuatan itu dilarang berdasarkan Pasal 36 huruf a jo Pasal 65 UU KPK dan memiliki konsekuensi pemidanaan paling lama 5 tahun penjara," kata Peneliti ICW Kurnia Ramadhana, Selasa (21/12). ICW turut mendesak KPK untuk tidak lagi melibatkan Lili dalam proses penanganan perkara yang menjerat Eks Penyidik Stepanus Robin Pattuju. Desakan ini diutarakan berdasarkan keterangan Robin yang menyebut bakal membongkar dugaan peran Lili dan Advokat Arief Aceh dalam sengkarut penanganan perkara di lembaga antirasuah. "Ini penting untuk ditegaskan oleh KPK agar proses penanganan perkara itu tidak diwarnai dengan konflik kepentingan," cetus Kurnia. Di sisi lain, ICW mengingatkan Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri bukan lah pengacara Lili Pintauli. Ini dikarenakan pernyataan Ali yang menepis tudingan Robin seakan terkesan seperti advokat ketimbang juru bicara. Semestinya, menurut ICW, keterangan Robin bisa dijadikan permulaan untuk menelusuri dugaan keterlibatan Lili dalam perkara lain. "Maka dari itu, bagi ICW pembelaan KPK kepada Lili itu berlebihan, tidak objektif, dan terlalu dini," tandas Kurnia. Atas hal itu, ICW merekomendasikan KPK untuk segera menerbitkan surat perintah penyelidikan apabila Robin mengungkap dugaan keterlibatan Lili dalam perkara lain. Dalam prosesnya, ICW menilai KPK juga perlu memanggil Arief Aceh untuk menelusuri dugaan tersebut. "Di antaranya yang paling krusial menyangkut seberapa intens komunikasi antara Lili dan Arief Aceh sejak Lili menjabat sebagai Komisioner KPK," tutur Kurnia. Melalui pemanggilan tersebut, menurut ICW, tim penyidik KPK nantinya dapat mengelaborasi substansi komunikasi antara Lili dengan Arief Aceh secara lebih lanjut. "Jika kemudian ada perkara-perkara yang dijadikan bancakan lalu terdapat aliran dana, maka ia dapat dijerat dengan pidana suap dan diberhentikan sebagai Komisioner KPK," tegas Kurnia. Sebelumnya, Robin menegaskan bakal membongkar peran Lili Pintauli Siregar yang disebutnya turut bermain dalam pengurusan perkara di KPK. Dirinya pun bertekat untuk memenjarakan Lili Pintauli. "Ada, ada (peran Lili Pintauli), dan saya akan bongkar. Saya akan bongkar beberapa kasus yang melibatkan dia. Saya akan bongkar, dia harus masuk penjara," ucap Robin di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (20/12). Dalam pembacaan pledoi atau nota pembelaan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (20/12), Robin pun mengaku bakal membongkar peran Lili Pintauli dalam kasus dugaan suap penanganan perkara di KPK apabila permohonan justice collaborator (JC) dilabulkan. Diketahui, Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK menuntut Robin dijatuhi pidana 12 tahun penjara. Jaksa juga menuntut agar Robin membayar denda sebesar Rp500 juta subsider enam bulan kurungan. Robin juga dituntut pidana tambahan berupa membayar uang pengganti sebesar Rp2,3 miliar subsider dua tahun penjara. Ada pun Robin bersama advokat Maskur Husain didakwa menerima suap sebesar Rp11.025.077.000 dan USD36 ribu atau setara Rp11,538 miliar. Suap diduga berkaitan dengan penanganan lima perkara kasus korupsi di KPK. (riz/fin)

DAPATKAN UPDATE BERITA FIN LAINNYA DI Google News


admin

Tentang Penulis

Sumber: