Traveling Bisa Jadi Alat Healing, Penting untuk Kesehatan Mental

Traveling Bisa Jadi Alat Healing, Penting untuk Kesehatan Mental

Traveling Bisa Jadi Alat Healing, Penting untuk Kesehatan Mental, oleh 畅 苏 dari Pixabay--

JAKARTA, FIN.CO.ID - Traveling bisa jadi alat healing atau memperbaiki kondisi mental seseorang.

Demikian menurut Ketua dan founder Asosiasi Kesehatan Remaja Indonesia (AKAR), dr. Fransisca Handy.

AKAR sendiri adalah organisasi yang memiliki fokus perhatian pada kesehatan remaja usia 10-24 tahun.

Dengan traveling ini, lanjut dr. Francisca, orang jadi bisa mencintai diri sendiri, which is penting banget untuk kesehatan mental.

Hal inilah yang lalu menjelaskan mengapa traveling bisa jadi alat healing.

"Traveling maupun eksplorasi hal-hal baru melalui aktivitas liburan dan berwisata, dapat menjadi salah satu upaya mengenal dan mencintai diri yang baik," kata dr Fransisca dalam sebuah pernyataan.

dr. Fransisca melanjutkan bahwa masalah kesehatan mental merupakan masalah kompleks dan dilematis.

Dan menariknya terkait masalah kesehatan mental ini, adalah bahwa isu ini kurang dipahami oleh orang banyak.

"Oleh karena itu, pentingnya berhenti sejenak memberikan waktu bagi diri untuk mengenal dan mencintai diri sendiri sangat penting dilakukan,"  kata dia.  

Sebab itulah orang disarankan untuk mengerti soal traveling bisa jadi alat healing.

Mengapa lalu penting untuk mengerti akan masalah kesehatan mental?

Menurut dr. Fransisca, ada kaitan yang erat antara kesehatan jiwa dengan keluhan yang terjadi pada fisik manusia.

Kesehatan mental dipengaruhi faktor-faktor seperti tingginya tingkat stres di pekerjaan atau perkuliahan, masalah percintaan atau hubungan dengan keluarga dan teman, persaingan lewat sosial media, dan sebagainya serta kemampuan untuk mengelola situasi dan emosi yang dirasakan.

Informasi terkait regulasi emosi dan cara pengelolaan stres yang sehat belum banyak diketahui masyarakat, khususnya anak muda.

Banyak anak muda berkeluh kesah di sosial media atau bercerita pada orang yang salah atau melakukan hal-hal yang terkesan membantu sesaat seperti merokok dan perilaku adiktif lainnya sebagai cara mengelola stres.

Salah satu kekhawatiran yang disampaikan dr Fransisca adalah jika hal ini dibiarkan berlarut-larut akan mempengaruhi kualitas hidup mereka ke depannya.

"Di sinilah kami aktif mengkampanyekan pentingnya menjaga memiliki kemampuan regulasi emosi yang sehat, mengelola stres, mengenal dan menghargai diri sendiri sebagai upaya untuk menjaga kesehatan jiwa anak muda dan kepada masyarakat pada umum".

"Kita semua bertanggung jawab untuk membentuk ekosistem yang kondusif bagi kesejahteraan anak muda,"  tambahnya.

Dia mengatakan kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya aspek kesehatan mental masih minim di tengah tingginya jumlah populasi yang mengalami gangguan kesehatan mental.

Menurut data yang dilansir oleh Kemenkes pada tahun 2021, tercatat 20 persen dari total penduduk Indonesia mengalami potensi masalah kesehatan mental.

Demikian soal traveling bisa jadi alat healing, semoga menginspirasi Anda untuk mulai peduli dengan kesehatan mental Anda ke depannya.

Sumber: