Tidak Ada Penambahan Kasus Gangguan Ginjal Akut

Tidak Ada Penambahan Kasus Gangguan Ginjal Akut

Tidak Ada Penambahan Kasus Gangguan Ginjal Akut, Image Credit: Wikimedia--

JAKARTA, FIN.CO.ID - Jubir Kemenkes dr. Muhammad Syahril mengatakan, tidak ada penambahan kasus gangguan ginjal akut pada anak pada 6 November 2022.

“Dalam kurun satu minggu terakhir juga terjadi penurunan tren gangguan ginjal akut pada anak di Indonesia” ujar dr. Syahril.

Sehingga masih tercatat 324 kasus, yang terdiri dari 28 kasus dalam perawatan, 194 meninggal (CFR 59%), dan sembuh 104 kasus. Dalam satu minggu terakhir.

dr. Syahril mengatakan upaya ini merupakan hasil sejak dikeluarkannya Surat Edaran, tentang larangan nakes dan apotek untuk memberikan obat cair/sirop pada anak.

Ini merupakan langkah antisipatif yang dilakukan pemerintah, mengingat hasil pemeriksaan terhadap kasus gangguan ginjal akut pada anak yang dilaporkan di 28 provinsi menunjukkan hasil pemeriksaan yang konsisten.

Perlu dicatat, faktor risiko terbesar penyebab gangguan ginjal akut pada anak adalah toksikasi dari EG dan DEG pada sirop/obat cair

Sejak tanggal 18 Oktober itu jumlah pasien sudah mulai turun terus, pada bulan November awal tanggal 2 sampai tanggal 6 bahkan tidak ada pasien yang bertambah maupun meninggal.

“Dengan kita melarang pemakaian obat di Puskesmas, di dokter-dokter atau tenaga kesehatan, dan penjualan di apotek, serta dengan mendatangkan antidotum maka pasien-pasien yang sedang dirawat itu mengalami perbaikan yang signifikan dan banyak yang sembuh,” ujar dr. Syahril pada konferensi pers update perkembangan kasus gangguan ginjal akut, Senin (7/11).

Kematian gagal ginja paling banyak terjadi di usia 1 sampai 5 tahun. Mayoritas kasus berada pada stadium 3 (58%). dr. Syahril mengungkapkan stadium 3 itu bisa diobati apabila belum betul-betul menjadi stadium yang sangat berat. Kalau stadium 1 dan 2 kemungkinan besar semuanya bisa diselamatkan.

Kementerian kesehatan juga terus menekan angka kematian akibat gangguan ginjal akut pada anak dengan memberikan antidotum fomepizole sebagai bagian dari terapi pengobatan pasien.

Obat antidotum (penawar) fomepizole injeksi sudah ratusan vial didatangkan dari beberapa negara, seperti Singapura, Australia, Kanada, dan Jepang (246 vial). Sebanyak 200 vial antidotum fomepizole juga sudah didistribusikan ke 41 rumah sakit di 34 Provinsi di Indonesia.

Sumber: