Apa Boleh Tidur Pakai Masker? Yang Punya Kondisi Ini Ternyata Dilarang

Apa Boleh Tidur Pakai Masker? Yang Punya Kondisi Ini Ternyata Dilarang

Ilustrasi - Masker--(Natalia Lavrinenko/Pixabay)

JAKARTA, FIN.CO.ID - Apa boleh tidur masker adalah pertanyaan yang jawabannya banyak dicari orang di jagat maya.

Jadi, apa boleh tidur pakai masker atau apakah bahaya tidur pakai masker?

Well, pada kasus tertentu, seperti saat dalam perjalanan panjang dengan pesawat terbang, kereta api, dan kendaraan umum lainnya, tidur pakai masker memang memberikan manfaat.

BACA JUGA:Apa Sudah Aman Lepas Masker di Ruang Terbuka? Ini Kata Ahli

Ya, dengan tidur pakai masker dapat menurunkan risiko Anda terpapar COVID dan lainnya.

Bahkan menurut ahli, via KlikDokter, tidur pakai masker medis contohnya tidak berisiko menimbulkan bahaya apapun.

Malahan bagi mereka yang pilek dan sakit tenggorokan akan diuntungkan tidur pakai masker.

Ya, orang yang pilek atau orang yang sedang sakit tenggorokan dapat menurunkan gejala mereka dengan pakai masker.

BACA JUGA:Bolehkah Bra Dipakai Saat Tidur? Begini Penjelasan Dokter

Sementara pada orang yang punya masalah pernapasan, tidur pakai masker bisa menurunkan risiko serangan asma.

Meski begitu, ada juga orang dengan kondisi kesehatan tertentu yang tidak disarankan tidur pakai masker.

Orang yang punya sindrom apnea tidur obstruktif tidak dianjurkan tidur pakai masker.

Mereka yang berisiko mengalami penyumbatan saluran napas jika tidur pakai masker, apabila menderita sindrom apnea tidur obstruktif.

Omicron XBB Punya Daya Tular Tinggi, Masyarakat Diminta Pakai Masker

Subvarian Omicron XBB telah terdeteksi di Indonesia, masyarakat diminta waspada dan memperkuat protokol kesehatan, terutama pakai masker.

Omicron XBB menyebabkan lonjakan kasus COVID-19 yang tajam di Singapura, diiringi dengan peningkatan tren perawatan di rumah sakit.

Sejak pertama kali ditemukan, sebanyak 24 negara melaporkan temuan Omicron varian XBB termasuk Indonesia. Kasus pertama XBB di Indonesia merupakan transmisi lokal, terdeteksi pada seorang perempuan, berusia 29 tahun yang baru saja kembali dari Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Menyusul temuan ini, Kemenkes bergegas melakukan upaya antisipatif dengan  melakukan testing dan tracing terhadap 10 kontak erat. Hasilnya, seluruh kontak erat dinyatakan negatif COVID-19 varian XBB.

Juru Bicara COVID-19 Kementerian Kesehatan dr. M. Syahril mengatakan, meski varian baru XBB cepat menular, namun fatalitasnya tidak lebih parah dari varian Omicron.

Kendati demikian negara belum bisa dikatakan aman dari pandemi COVID-19. Sebab berbagai mutasi varian baru masih berpotensi terus terjadi. Dalam 7 hari terakhir juga dilaporkan terjadi kenaikan kasus di 24 provinsi.

dr. Syahril meminta masyarakat mengedepankan protokol kesehatan seperti pakai masker, menghindari kerumunan dan mencuci tangan pakai masker, dan melakukan testing apabila mengalami tanda dan gejala COVID-19.

Selain itu juga menyegerakan vaksinasi COVID-19 untuk meningkatkan proteksi terhadap COVID-19.

Kemenkes juga sudah meningkatkan pengawasan kedatangan WNI dan WNA di pintu-pintu masuk negara.(D2/MF/NI)


Sumber: