Jelang Pidato Kenegaraan Jokowi, Rupiah Malah Bergerak Melemah

Jelang Pidato Kenegaraan Jokowi, Rupiah Malah Bergerak Melemah

Uang rupiah (Pixabay)--

JAKARTA, FIN.CO.ID -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan menyampaikan pidato kenegaraan di gedung MPR-DPR Jakarta, Selasa 16 Agustus 2022, pukul 09.30 WIB. 

Namun demikian, kurs rupiah justru malah bergerak melemah pagi ini.  Mengutip data Bloomberg, Selasa pukul 09.05 WIB, kurs rupiah tengah diperdagangkan pada level Rp14.774 per dolar AS. 

(BACA JUGA:Cek Disini Bunda, Harga Emas Antam 16 Agustus 2022 Anjlok Rp8.000 Per Gram Jadi Segini)

(BACA JUGA:Aliran Modal Asing Masuk ke Pasar Keuangan RI Sepekan Terakhir Capai Rp7,74 Triliun)

Posisi tersebut menunjukkan pelemahan 33 poin atau 0,22 persen apabila dibandingkan dengan posisi penutupan pasar spot pada Senin sore kemarin 15 Agustus 2022, di level Rp14.741 per dolar AS.

Namun demikian, penyebab rupiah melemah tentu saja bukan pidato Presiden Jokowi, melainkan para pelaku pasar yang masih mempertimbangkan sikap bank sentral Amerika, Federal Reserve atau The Fed, yang agresif mengingat laju inflasi AS masih tinggi.

Analis PT Sinarmas Futures Ariston Tjendra mengatakan, nilai tukar rupiah masih berpeluang tertekan terhadap dolar AS meneruskan pelemahan kemarin. 

"Awal pekan ini, para pelaku pasar terlihat masih mempertimbangkan soal rencana kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS yang agresif," kata Ariston dalam keterangan tertulis, Selasa 16 Agustus 2022.

(BACA JUGA:Terkuak, Surplus Perdagangan Indonesia Terjadi Karena Harga Komoditas Masih Tinggi)

(BACA JUGA:Utang RI di Luar Negeri Alami Penurunan Pada Triwulan II 2022)

Meskipun data inflasi AS yang terakhir menunjukkan penurunan, tapi beberapa petinggi the Fed masih mendorong kebijakan kenaikan suku bunga acuan untuk menurunkan level inflasi ke kisaran target 2 persen. 

Inflasi AS saat ini masih jauh dari target tersebut, di kisaran 8-9 persen.

"Selain itu, menurunnya data ekonomi China sebagai negara dengan perekonomian terbesar kedua, yang dirilis kemarin pagi, menambah kekhawatiran pasar soal perlambatan ekonomi global. Data yang dirilis kemarin yaitu data produksi Industri dan data penjualan ritel bulan Juli melemah terimbas efek negatif dari lockdown," ujar Ariston.

Data konsumsi dan produksi industri China menunjukan peningkatan pada bulan Juli 2022. Meski begitu, realisasinya masih berada di bawah ekspektasi analis.

Sumber: