Sri Mulyani 'Semprot' Kepala Daerah soal APBD: Uang Dihabiskan untuk Belanja Pegawai

Menteri Keuangan Sri Mulyani-smindrawati-Instagram

JAKARTA, FIN.CO.ID - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut selama 11 tahun terakhir, banyak daerah yang lebih banyak menghabiskan uangnya untuk belanja pegawai dibandingkan pembangunan sumber daya manusia maupun Infrastruktur publik.

Padahal, transfer ke daerah merupakan sesuatu hal yang dinilai cukup penting dilakukan untuk belanja strategis. 

.

(BACA JUGA:Sri Mulyani Blak-Blakan Soal Utang Indonesia yang Mencapai Rp 7 Ribu Triliun Lebih)

"Tahun 2011 waktu itu transfer pusat ke daerah Rp 450 triliun. Sekarang sudah Rp 770 triliun. Anda lihat belanja pegawai naik terus. Belanja barang naik tinggi, belanja modal relatif stagnan dan bahkan menurun," ujar Sri Mulyani dalam Rapat Koordinasi dengan Gubernur, Bupati dan Walikota di Kementerian Dalam Negeri, Kamis (16/6/2022).

Menurut Sri Mulyani,  jika ingin membangun Indonesia menjadi negara maju, tanpa Infrastruktur adalah hal yang mustahil. 

Sementara, infrastruktur termasuk bentuk belanja modal. Sehingga jika belanja modal pemerintah daerah semakin mengecil, maka sulit untuk mengejar ketertinggalan.

Selain komposisi belanja, Sri Mulyani juga menyoroti Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

(BACA JUGA:Cak Imin Jujur Naksir Sri Mulyani, Punya Pengalaman Dahsyat Buat Jadi Wapres di Pemilu 2024 )

...

Dia menyebut APBD juga menghadapi masalah percepatan belanja yang lambat. 

Contohnya, pada Mei lalu Indonesia mengalami belanja yang lebih rendah sebanyak 17 persen dibanding tahun lalu.

"Tahun lalu akhir Mei kita belanja Rp 270 triliun di APBD. Tahun ini hanya Rp 232 triliun. Kita akan melihat apa yang jadi kendalanya," tukas Sri Mulyani.

Tak hanya itu. Sri Mulyani pun menyinggung dana pemerintah daerah yang banyak 'parkir' di bank. Padahal dana tersebut seharusnya segera disalurkan ke masyarakat.

(BACA JUGA:Sri Mulyani Berdoa di Depan Ka'bah: Hasbunallah Wanikmal Wakil Nikmal Maula Wanikman Nasir)

"Artinya kecepatan untuk membelanjakan instrument yang penting ke daerah nggak jalan. Kita nggak sekedar belanjasaja. Begitu dapat transferan dari pusat langsung gampang saja bayar gaji pegawai. Itu nggak perlu leadership. Yang perlu dipikirkan kenapa belanja barangnya banyak, kenapa belanja modal kurang. Padahal masyarakat masih butuh Infrastruktur, masih ada kemiskinan," pungkasnya.

Topik:
Sumber :

BERITA TERKAIT