Catatan Dahlan Iskan

Layar Marlupi

Saat melayat Jumat malam kemarin saya ikut bertepuk tangan berkali-kali. Wanita di sebelah saya juga terus bertepuk tangan sambil terisak-isak sedih

Layar Marlupi

Oleh: Dahlan Iskan

Saat melayat Jumat malam kemarin saya ikut bertepuk tangan berkali-kali. Wanita di sebelah saya juga terus bertepuk tangan sambil terisak-isak sedih. Wanita itu putri pertama jenazah yang disemayamkan di situ –di rumah duka Adi Jasa, Surabaya.

Nama wanita terisak itu Anda sudah tahu: Fifi Sijangga. Nama ibunyi yang meninggal pun Anda sudah tahu: Marlupi Sijangga –tokoh legenda balet Indonesia.

Marlupi meninggal di usia 90 tahun –di adat Tionghoa biasa membulatkan angka 89 menjadi 90. Di hari Marlupi meninggal itu nyaris bersamaan dengan usia ke-70 akademi balet yang dia dirikan: Marlupi Dance Academy.

Marlupi sebenarnya punya keinginan di ulang tahun ke-70 akademi tari itu, diadakan pertunjukan balet yang istimewa di Jakarta: di Taman Ismail Marzuki. Memang satu prestasi besar sebuah akademi bisa bertahan sampai umur 70 tahun –bahkan justru terus berkembang lebih maju.

Persiapan pertunjukan terus dilakukan. Bahwa puncak acaranya dilakukan di Jakarta karena pertumbuhan Marlupi Dance Academy terpesat ada di Jakarta: sudah punya lebih 25 cabang. Total lebih 50 cabang di seluruh Indonesia dengan jumlah siswa 3.500 orang.

Persiapan puncak acara pun sudah matang. Ternyata Marlupi meninggal dunia. Pertunjukan tidak dibatalkan. Justru sekaligus untuk mengantarkan Marlupi menuju surganyi. Pertunjukan itu disiarkan secara live streaming yang bisa ditangkap di ruang jenazah di Surabaya.

Satu layar besar dipasang di ujung ruang duka. Lima layar lainnya disebar di berbagai sudut. Saya duduk satu meja dengan tiga anak Marlupi: si sulung Fifi Sijangga dan si kembar Mar Dwatmadja dan Mar Dwatmadji. Kata "Mar" di depan nama si kembar diambil dari nama mamanya.

Untung saya datang lebih awal: sempat berdoa di depan jenazah, membungkuk tiga kali ke peti, sekali ke arah keluarga di kanan peti, dan sekali ke arah keluarga di kiri peti. Lalu kami sama-sama menuju meja duka untuk mendapat sajian nasi uduk (nasi lemak), wedang ronde, dan berbagai minuman beserta kue. "Sebentar lagi kita nonton live streaming dari Taman Ismail Marzuki Jakarta," bisik Fifi ke telinga saya.

Maka mulailah kami menonton pertunjukan balet ulang tahun ke-70 Marlupi Dance Academy –sekaligus balet pengantar pendirinya ke surga.

Adegan pertama adalah balet kolosal: panggung penuh dengan penari balet. Saya tidak tahu apa judul balet itu. Tapi indah sekali.

Tampilan kedua bikin gemes: balet anak-anak kecil murid akademi. Sekecil itu sudah bisa balet begitu bagus.

"Untuk bisa seperti itu mereka sudah berapa lama berlatih di akademi?"

"Tiga tahun. Setidaknya dua tahun," ujar Fifi sambil terus memperhatikan anak-anak didiknyi di layar.

"Umur berapa paling kecil yang bisa diterima di akademi?"

Berita Terkait