Ragam . 02/11/2026, 08:27 WIB

Bukan Sekadar Pembiayaan, BRI Perkuat Ekosistem Pangan dari Hulu hingga Hilir untuk Dukung Swasembada Protein

Penulis : Wanda Afifah
Editor : Wanda Afifah

fin.co.id - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus memperkuat kontribusinya dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui pembiayaan yang menjangkau ekosistem pangan dari hulu hingga hilir. Komitmen tersebut sejalan dengan penguatan agenda swasembada protein nasional yang menjadi perhatian pemerintah, termasuk melalui pengembangan sektor perikanan, peternakan, UMKM, koperasi, hingga industri pengolahan.

Hal tersebut mengemuka dalam acara CNN Indonesia Agrifood Forum 2026 bertema “Swasembada Protein di Tengah Tantangan Pangan Global” yang digelar pada Senin (19/10) di Jakarta. Forum tersebut menghadirkan Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Zulkifli Hasan, Menteri Kelautan dan Perikanan RI Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal RI Yandri Susanto, Wakil Menteri Pertanian RI Saleh Mustafa, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya, serta sejumlah pimpinan BUMN.

Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Zulkifli Hasan menekankan bahwa swasembada pangan bukan semata-mata mengenai pemenuhan kebutuhan domestik, tetapi juga berkaitan dengan kedaulatan nasional. Menurutnya, penguatan sektor pangan harus dibarengi dengan keberpihakan terhadap pelaku usaha di tingkat paling bawah, termasuk nelayan dan pembudidaya ikan.

“Nelayan, dia paling menderita, dia paling miskin, kami harus pikirkan dia dulu,” ujar Zulkifli Hasan dalam forum tersebut. Ia juga menyoroti pentingnya dukungan infrastruktur seperti cold storage serta akses pembiayaan agar produktivitas dan kesejahteraan pelaku usaha pangan dapat meningkat.

Sejalan dengan hal tersebut, Menteri Kelautan dan Perikanan RI Sakti Wahyu Trenggono menilai sektor perikanan memiliki peran strategis dalam pemenuhan kebutuhan protein masyarakat. Ia menekankan bahwa ikan dan hasil laut dapat dikembangkan menjadi berbagai produk pangan bernilai tambah yang lebih mudah diakses masyarakat.

“Kalau dari ikan tidak usah ditanya, hampir seluruhnya,” ujar Trenggono saat membahas besarnya potensi pangan berbasis hasil laut. Menurutnya, inovasi pengolahan produk perikanan menjadi salah satu langkah penting agar sumber protein tersebut dapat dikonsumsi secara lebih luas dan terjangkau.

Dalam konteks tersebut, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan BRI memiliki posisi strategis untuk mendukung pengembangan ekosistem pangan melalui pembiayaan yang tidak hanya menyasar pelaku usaha yang telah berkembang, tetapi juga masyarakat yang baru memulai usaha.

“Kalau kita bicara pembiayaan, BRI itu mulai dari orang yang baru punya niat untuk memulai usaha sampai dengan yang sudah besar. Jadi dari sisi ultramikro ada PNM, kemudian Pegadaian, lalu masuk ke segmen mikro, kecil, sampai korporasi. Ini yang membuat kami bisa melihat ekosistem secara lebih menyeluruh,” ujar Akhmad.

Menurut Akhmad, pendekatan ekosistem menjadi penting karena kebutuhan pembiayaan sektor pangan tidak berhenti pada tahap produksi. Pembiayaan dibutuhkan mulai dari sisi hulu, seperti penyediaan benih, pakan, dan peningkatan kapasitas produksi; tahap pengolahan untuk investasi, pengemasan, dan modal kerja; hingga sisi hilir yang mencakup distributor, pedagang, dan kebutuhan persediaan.

Salah satu implementasinya terlihat dalam ekosistem peternakan sapi perah di Malang. BRI dapat membiayai peternak sebagai produsen, mendukung koperasi yang memiliki fasilitas cold storage, sekaligus membiayai industri atau offtaker yang menyerap hasil produksi. Dengan pendekatan tersebut, pembiayaan tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan rantai nilai yang menciptakan kesinambungan usaha.

Dari sisi pembiayaan, hingga akhir Triwulan II 2026 total portofolio kredit BRI telah mencapai Rp1.645 triliun, dengan sekitar 75,1% disalurkan kepada segmen UMKM. Khusus KUR, sepanjang Triwulan II 2026, sekitar 44% penyalurannya mengarah ke sektor pertanian dan perikanan, yang memiliki peran penting dalam memperkuat ekosistem pangan dan protein nasional.

Akhmad menegaskan bahwa porsi pembiayaan kepada UMKM tetap menjadi prioritas BRI. “Tidak boleh di bawah 75%, itu harus kepada UMKM,” tegasnya.

BRI juga memiliki sekitar 30 ribu tenaga pemasar di lapangan yang memiliki spesialisasi pada berbagai sektor, termasuk peternakan, perikanan, pertanian, dan perdagangan. Kapabilitas tersebut memungkinkan BRI memahami karakteristik usaha sekaligus kebutuhan pembiayaan secara lebih dekat.

“Dari awal kita sudah bisa masuk. Kita bisa membiayai dari hulu, kemudian prosesnya, sampai ke hilir. Jadi bukan hanya soal memberikan kredit, tetapi bagaimana pembiayaan itu bisa membuat ekosistem usahanya tumbuh,” ujar Akhmad.

Melalui pendekatan tersebut, BRI terus memperkuat peran intermediasi perbankan sebagai bagian dari ekosistem pangan nasional. Pembiayaan diarahkan tidak hanya untuk mendorong pertumbuhan pelaku usaha, tetapi juga memperkuat konektivitas antarpelaku dalam rantai pasok sehingga menciptakan ekosistem pangan yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id