Iklan
Iklan
Ragam

Abadikan Perjalanan Sampan Bujana Sentra, Wiwiek Rilis Buku 'Badai dalam Tungku'

Di tengah perubahan zaman dan derasnya pengaruh budaya asing, menjaga seni serta tradisi Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar keinginan untuk melestarikan.

Abadikan Perjalanan Sampan Bujana Sentra, Wiwiek Rilis Buku 'Badai dalam Tungku'
Ni Luh Made Dwi Indriati (Wiwiek) memegang Buku Badai dalam Tungku, Kisah Keteguhan Sampan Bujana Sentra

Buku terbaru Wiwiek merekam perjalanan Sampan Bujana Sentra sebagai ruang pertemuan seni pertunjukan dan kuliner tradisional Indonesia, sekaligus mengangkat kisah mimpi, perjuangan, dan keteguhan dalam menjaga warisan budaya.

fin.co.id - Di tengah perubahan zaman dan derasnya pengaruh budaya asing, menjaga seni serta tradisi Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar keinginan untuk melestarikan.

Diperlukan ruang, komitmen, dan orang-orang yang bersedia meneruskan perjuangan tersebut. Semangat inilah yang menjadi bagian dari kisah Sampan Bujana Sentra (SBS), yang kini diabadikan oleh Ni Luh Made Dwi Indriati, atau yang akrab disapa Wiwiek, melalui buku terbarunya berjudul Badai dalam Tungku, Kisah Keteguhan Sampan Bujana Sentra.

Buku ini berangkat dari keinginan Wiwiek untuk mendokumentasikan salah satu karya terbaik almarhum Sampan Hismanto, pendiri Sampan Bujana Sentra. Lebih dari sekadar merekam perjalanan sebuah tempat, buku ini mengajak pembaca menelusuri kisah tentang mimpi, perjuangan, dan keteguhan dalam mempertahankan ruang yang mempertemukan seni pertunjukan dengan kekayaan kuliner tradisional Indonesia.

Dalam sinopsisnya, Sampan Bujana Sentra digambarkan sebagai oasis budaya di Jakarta, tempat pengunjung dapat menikmati kelezatan masakan tradisional Nusantara sekaligus menyaksikan pertunjukan seni autentik.

Kehangatan rempah-rempah Indonesia berpadu dengan gemulai tari daerah, alunan angklung, dan merdunya lagu-lagu daerah, menghadirkan pengalaman yang menyatukan cita rasa dan kekayaan budaya.

Namun, perjalanan SBS tidak hanya berkisah tentang pertunjukan dan pengalaman kuliner. Di balik keberadaannya, tersimpan perjuangan untuk mempertahankan sebuah mimpi. Setelah sang pendiri berpulang, perjalanan tersebut berlanjut melalui langkah para penerus yang berupaya menjaga semangat dan keberlangsungan SBS di tengah berbagai perubahan.

Berawal dari Kenangan, Menjadi Dokumentasi Perjalanan SBS

Bagi Wiwiek, gagasan menulis buku ini tumbuh dari pengalaman personal ketika ia duduk di dalam ruangan Sampan Bujana Sentra dan memandang sekelilingnya. Suasana tempat tersebut membawanya kembali pada berbagai kegiatan dan pengalaman yang pernah berlangsung di sana.

Kesan mendalam itulah yang kemudian mendorongnya untuk mengabadikan cerita SBS dalam bentuk buku agar perjalanan dan nilai-nilai yang melekat di dalamnya dapat dikenal oleh lebih banyak orang.

“Keinginan saya adalah mendokumentasikan secara khusus salah satu karya terbaik almarhum Bapak Sampan Hismanto, yaitu Sampan Bujana Sentra. Saya ingin bercerita melalui buku,” ungkap Wiwiek.

Buku ini juga melanjutkan perjalanan Wiwiek dalam dunia literasi. Sebelumnya, ia telah menerbitkan novel Wirasa Ayuri serta buku Sampan Hismanto Sang Maestro Tari, Panggungnya Tak Pernah Habis.

Melalui karya terbarunya, ia kembali menggunakan tulisan sebagai medium untuk merekam pengalaman, menyampaikan cerita, dan menjaga ingatan tentang sosok maupun tempat yang memiliki arti penting.

Dalam Badai dalam Tungku, Kisah Keteguhan Sampan Bujana Sentra, perjalanan SBS menjadi lebih dari sekadar latar sebuah cerita. Tempat ini hadir sebagai bagian dari upaya memperkenalkan seni dan budaya Indonesia melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Kisah Keteguhan di Balik Seni dan Kuliner Nusantara

Berita Terkait