Catatan Dahlan Iskan

IKN Tiongkok

Saya tiba di Beijing masih terlalu pagi: Senin lalu. Saat masih di Bandara Changi, sebelum berangkat tengah malam, saya sempatkan mandi di ruang tunggu.

IKN Tiongkok

Oleh: Dahlan Iskan

Saya tiba di Beijing masih terlalu pagi: Senin lalu. Saat masih di Bandara Changi, sebelum berangkat tengah malam, saya sempatkan mandi di ruang tunggu. Anda sudah tahu: tiba di suatu kota terlalu pagi punya risiko; tidak bisa langsung masuk hotel --berarti tidak bisa mandi pagi.

Kali ini tidak ada yang menjemput saya di bandara Beijing. Janet dan suami sedang di Jakarta. Baru sekali ini saya harus dewasa --melakukan apa pun tanpa ada yang melayani.

Pasahal rombongan Disway Business Adventures Vol. 5 baru tiba di Beijing tengah hari. Saya punya waktu enam jam menunggu kedatangan mereka. Maka saya putuskan saja: ke Xiong An. Itulah IKN-nya Tiongkok. Sekitar satu jam dari bandara baru Daxing.

Bandara itu sendiri berlokasi di tengah-tengah antara Beijing-Tianjin-Xiong An. Ke mana pun ke tiga kota itu berjarak sekitar satu jam dari bandara Daxing.

Saya pernah ke Xiong An: delapan tahun lalu. Yakni ketika saya baru mendengar Tiongkok akan membuat kota baru masa depan sebagai ibu kotanya. Waktu itu saya hanya bisa melihat lahan kosong yang ditumbuhi tetanaman perdu liar. Dari jauh saya melihat seperti ada danau alami yang tidak indah sama sekali.

Ternyata itu memang bukan danau. Itu adalah embung besar untuk penampung air hujan agar tidak terjadi banjir. Saya ingin membandingkan kondisi Xiong An delapan tahun lalu dan sekarang.

Ada jalur kereta baru dari bandara ke Xiong An. Saya putuskan naik kereta itu saja. Saya pun cari-cari di mana stasiunnya: di lantai bawah tanah. Keretanya jurusan Beijing-Barat - Xiong An --bandara Daxing di tengah-tengah tiga kota itu.

Tiba di Daxing saya saksikan stasiunnya: baru. Besar. Sepi. Masih sedikit yang menggunakannya. Rupanya itu stasiun untuk masa depan Xiong An.

Saya langsung menuju lorong ke arah taksi.

"Bisakah antarkan saya muter-muter Xiong An? Setengah jam cukup?" kata saya kepada sopir taksi.

"Setidaknya satu jam," jawabnya. "Dari sini ke Kota Baru memakan waktu 20 menit. Baliknya nanti 20 menit lagi" tambahnya.

"好的。可以。谢谢. 走吧," kata saya.

Dari halaman stasiun, Kota Baru itu belum tampak. Stasiun itu sendiri sudah dikelilingi banyak bangunan baru. Sudah bukan hanya stasiun. Sudah seperti kota kecil yang baru, modern dan bersih.

"Peta digital ini saya matikan saja ya?" tanya si taksi.

Berita Terkait