Catatan Dahlan Iskan . 11/10/2026, 05:24 WIB
Oleh: Dahlan Iskan
Kami, satu meja, bergantian mencoba kacamata istimewa itu. Yang diminta mencoba pertama adalah Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang baru: Gus Kikin (lihat foto). Lalu pengusaha besar pemilik grup Maspion, Alim Markus. Pindah ke Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak. Pindah lagi ke istri Wagub, artis yang 5i itu. Masih berpindah ke satu lagi: Indah Kurnia, anggota DPR dari PDI-Perjuangan dapil Surabaya. Terakhir saya.
Awalnya kami tidak tahu kalau kacamata yang dipakai Ye Su, konsul jenderal Tiongkok untuk Jatim, Jateng, DIY, Maluku, dan Maluku Utara itu, istimewa. Terlihat seperti kacamata biasa. Kami baru tahu setelah Ye Su turun dari podium –usai memberi sambutan ulang tahun ke-75 RRT.
Begitu duduk kembali di kursinya ia berkata: "Saya tadi pakai ini. Sedikit agak besar". Ye Su berkata begitu sambil melepas kacamata itu. Sambil menikmati hidangan hotel Vasa Surabaya saya memperhatikan penjelasan Ye Su tentang kacamata itu. Waktu berpidato ia memang tidak terlihat membaca teks. Ia memang terlihat tidak membawa teks.
Teks pidato yang dibaca Ye Su ternyata ada di kacanya kacamata itu. Ia bisa membaca teks pidato langsung di kacamata itu. Saya baru percaya setelah dapat giliran mencobanya.
Begitu saya mengenakannya langsung terlihat baris-baris kalimat pidatonya. Meski kaca di kacamata itu sangat dekat di mata ternyata teksnya terlihat seperti jauh di depan sana. Tidak ada bedanya dengan kita membaca teks film di layar lebar. Bahkan terlihat lebih jelas.
Saya jadi ingat mobil listrik BYD yang jenis sedan. Waktu kita mengemudikannya kita bisa melihat angka kecepatan kita jauh di depan sana. Bukan di speedometer yang di dashboard.
Angka kecepatan itu terlihat seperti sekitar 10 meter di depan mobil. Kita tidak perlu menunduk ke speedometer untuk mengecek kecepatan. Dengan tanpa perlu melihat dashboard wajah, mata kita, tetap bisa fokus ke jalan raya. Mungkin seperti itu juga kacamata istimewa Ye Su tadi.
Maka era teleprompter segera lewat. Seorang presiden, termasuk presiden direktur perusahaan, tidak perlu lagi membaca layar. Pun penyiar TV. Bahkan paparan materi rapat tidak perlu lagi ditayangkan di layar. Cukup masing-masing peserta rapat mengenakan kacamata jenis itu.
Tentu kacamata seperti itu bukan baru. Sudah banyak negara yang memproduksinya. Negara pertama adalah Amerika. Lalu Jepang. Tapi tidak segera memasyarakat: mahal. Kurang praktis. Itu tahun 2012–2013.
Anda pun sudah bisa menebak Tiongkoklah yang kemudian mengambil alih semuanya. Menyederhanakannya. Membuatnya lebih praktis. Dan yang utama: murah. Seperti yang saya coba itu adalah produk Tiongkok.
Saya tidak bertanya mereknya. Juga tidak sempat mengamati –karena harus bergantian mencoba. Hampir pasti kacamata itu disebut smart glasses teleprompter. Merek yang paling terkenal adalah Rokid, bikinan Hangzhou. Ada juga merek Even G2.
Tiongkok memang bukan yang pertama. Tapi yang bentuknya sangat mirip kacamata adalah buatan Tiongkok. Sampai saya pun tidak menduga kalau yang dipakai Konsul Ye Su adalah smart glasses teleprompter. Kita semua baru tahu setelah Ye Su memberi tahu kami dengan cara melepas kacamata diplomasinya --untuk kita coba bergantian.
Selamat tinggal teleprompter tradisional. Para penyiar TV pun bisa ganti ke smart glasses teleprompter. Bagi investor itu berarti penghematan investasi bikin stasiun televisi. Siapa tahu kelak Tiongkok juga memproduksi kacamata untuk melihat berapa isi dompet para perusuh Disway. Atau isi tas yang dibagi-bagi dalam sebuah Muktamar. Atau yang bisa memproduksi suara gemuruh tepuk tangan untuk menambah semangat yang sedang berpidato. (Dahlan Iskan)
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id