Debat Bahasa Inggris, Ancaman AI Jadi Sorotan Mahasiswa ITPLN
Language Development Center Institut Teknologi PLN (ITPLN) menggelar debat berbahasa Inggris bertajuk “Will AI Kill Millions of People in the Future?”.
fin.co.id - Language Development Center Institut Teknologi PLN (ITPLN) menggelar debat berbahasa Inggris bertajuk “Will AI Kill Millions of People in the Future?”. Forum ini mengajak mahasiswa menguji argumen melalui percakapan berbahasa inggris tentang potensi kecerdasan buatan (AI), risiko teknologi, serta dampaknya terhadap keselamatan manusia pada masa depan.
Salah satu peserta debat, Laura Alexandra, menilai potensi bahaya AI perlu dikaji secara kritis dengan membedakan risiko yang bersumber dari teknologi dan dampak yang muncul akibat keputusan manusia. Menurutnya, kemampuan AI melakukan kesalahan tidak serta-merta membuktikan bahwa teknologi tersebut akan membunuh jutaan orang pada masa mendatang.
Dalam argumennya, Laura juga menyoroti konsumsi listrik dan emisi dari pusat data (data center) yang kerap dikaitkan dengan perkembangan AI. Namun, ia mengingatkan bahwa data konsumsi energi pusat data secara keseluruhan tidak bisa langsung dianggap sebagai konsumsi AI semata.
“AI adalah alat, bukan entitas yang secara otomatis memiliki keinginan untuk membunuh manusia. Risikonya sangat bergantung pada bagaimana teknologi itu dirancang, digunakan, dan dikendalikan oleh manusia,” ujar Laura saat mempertahankan argumennya dalam debat tersebut, Jum'at, 9 Oktober 2026.
Ia juga menekankan pentingnya membedakan antara kemungkinan terjadinya dampak negatif dan bukti yang mendukung klaim bahwa AI akan menyebabkan kematian dalam skala besar. Menurut dia, penilaian terhadap ancaman AI harus didasarkan pada fakta dan bukti, bukan sekadar asumsi mengenai perkembangan teknologi.
Debat berbahasa Inggris tersebut mempertemukan mahasiswa dalam sejumlah sesi. Pada sesi pertama, Laura Alexandra dan Haidar Amar berhadapan dengan Raihan Abisali dan Affan Ghifari Ihkwan.
Sesi kedua mempertemukan Aufar Alkhaliq dan Ahmad Ibrahimovic dengan Fatih Fajar Ilmawan dan Najwa Nadhira Ramadhan. Pada sesi ketiga, Marta Cipta Ningsih dan Desvia Putri berhadapan dengan Armando Garlang Marpaung dan Hanifah Tunnabilah Azzal. Sementara itu, sesi keempat diikuti Navoan Draiat Siagian dan Abdul Hadi Adillia.
Rektor ITPLN Prof. Dr. Ir. Iwa Garniwa, M.K., M.T., IPU., ASEAN Eng., APEC Eng., menilai tema debat tersebut relevan dengan perkembangan teknologi dan tantangan yang akan dihadapi generasi mendatang. Menurutnya, AI merupakan pengetahuan penting yang perlu dipahami mahasiswa, terutama karena pemanfaatannya semakin memengaruhi berbagai sektor kehidupan.
Iwa mengatakan, perkembangan AI juga perlu diikuti pembahasan mengenai keselamatan, tanggung jawab, dan masa depan manusia. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki kemampuan berpikir kritis serta menyampaikan gagasan dengan argumentasi yang kuat.
Ia mendorong peserta untuk mendukung pendapat dengan fakta dan bukti, sekaligus menghormati pandangan yang berbeda. Kemampuan berdebat dengan bahasa inggris, menurut dia, bukan hanya soal mempertahankan pendapat atau memenangkan pertandingan, melainkan juga tentang belajar mendengarkan dan memahami perspektif lain.
Baca Juga
“Debat bukan hanya tentang menang atau kalah. Ini tentang belajar, mendengarkan, dan mencoba berpikir dengan cara yang berbeda,” kata Iwa berpesan kepada para peserta.
Debat berbahasa inggris ini merupakan bagian dari acara Friday English Music and Fun yang digelar rutin setiap Jum'at. ITPLN mendorong mahasiswa meningkatkan kemampuan bahasa Inggris sekaligus mengasah keterampilan berpikir kritis, menyusun argumentasi, dan menyampaikan gagasan secara terstruktur.
Diskusi mengenai masa depan AI diharapkan dapat membantu mahasiswa memahami bahwa kemajuan teknologi perlu diimbangi tanggung jawab manusia dalam mengembangkan dan menggunakannya. (*)