Catatan Dahlan Iskan . 09/10/2026, 05:28 WIB

Bali Lombok

Penulis : Afdal Namakule
Editor : Afdal Namakule

Oleh: Dahlan Iskan

Tanggal 3 Oktober 2026, tidak hanya ada persiapan Grand Prix MotoGP di Lombok; ada juga media baru bernama Disway Lombok –bagian dari jaringan media Disway National Network (DNN).

Saat bertemu Gubernur NTB Lalu Mohamad Iqbal 26 September, saya laporkan kabar baik itu. Pun ketika bertemu Wali Kota Mataram Mohan Roliskana di kesempatan yang sama.

Hari itu saya memang di Mataram: jadi saksi pernikahan keluarga. Pengantin wanita adalah sepupu keponakan saya yang bertugas di Kejati NTB. Pengantin pria adalah staf wali kota Mataram. Gubernur dan Wali kota hadir. Kami ngobrol beberapa hal. Salah satunya soal terbitnya Disway Lombok.

Gubernur Mamiq –begitu rakyat NTB biasa memanggil Mohamad Iqbal– tidak kalah gesit. Begitu saya selesai ''mempromosikan'' Disway, gubernur ganti promosi Lombok. "Sebentar lagi akan terbit jenis baru transportasi di Lombok," ujar Gunernur Mamiq.

Jenis angkutan baru itu, katanya, akan bisa meningkatkan pariwisata di Lombok. Yakni seaplane. Atau biasa juga disebut float plane.

"Seaplane itu dari Kanada," ujar gubernur. Itu jenis pesawat yang bisa mendarat di pantai atau di danau. Tidak harus mendarat di landasan bandara.

Saya, yang baru pulang dari keliling Kanada (bagian timur), langsung tahu apa yang dimaksud Gubernur NTB itu. Yakni pesawat jarak pendek yang di Kanada memang sangat populer.

Di Lombok pesawat seperti itu akan bisa mendarat di pantai Kuta, pantai indah di Lombok Selatan. Atau mendarat di pantai Senggigi dekat untaian pulau Gili Trawangan. Sedang di Bali pesawat itu bisa mendarat di teluk Benoa.

Maka tidak lama lagi turis dari Bali bisa ke Lombok dengan pesawat jenis itu: Benoa–Senggigi atau Benoa–Kuta. Tidak harus lewat bandara Ngurah Rai ke Bandara Lombok di dekat Mandalika.

Pemerintah pusat harusnya senang dengan rencana di Lombok itu. Selama ini angkutan udara Bali-Lombok menggunakan pesawat jenis baling-baling ATR –mondar-mandir Ngurah Rai–Mandalika. Akibatnya landasan pacu di Ngurah Rai sangat "terganggu": terlalu banyak pesawat kecil naik turun di Ngurah Rai. Itu memakan slot landing dan take off yang kurang efisien. Padahal lebih baik slot itu diberikan ke pesawat-pesawat besar yang membawa turis lebih banyak.

Kalau seaplane benar-benar bisa mengambil alih hubungan turis Bali–Lombok slot di bandara Bali bisa diberikan lebih banyak ke pesawat dari luar negeri. Masih banyak maskapai dari negara lain yang minta slot mendarat di Bali –terpaksa ditolak. Padahal kalau diterima jumlah turis ke Bali akan meningkat –dan sebagiannya akan ke Lombok.

Anda juga sudah tahu: meski beda ukuran, pesawat besar dan kecil itu sama dalam hal penggunaan waktu take off dan landing. Maka, pada dasarnya, bandara super sibuk seperti Ngurah Rai tidak ingin melayani pesawat-pesawat kecil.

Beda dengan bandara Cengkareng Jakarta: punya dua landasan. Bahkan sudah ada ide membangun landasan ketiga. Pendek saja. Khusus untuk pesawat kecil.

Kalau pun Cengkareng penuh masih punya pilihan lain: bandara Halim Perdanakusuma. Bahkan pesawat-pesawat kecil bisa dialihkan ke bandara kecil di Pondok Cabe.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id