Catatan Dahlan Iskan

Rocky Gerung

Bukan main membanjirnya ejekan, hujatan, meme sampai karangan bunga duka cita: R.I.P Rocky Gerung. Termasuk yang mengejek tekadnya di Wantimpres: tetap kritis dan kritis itu beda dengan kritik.

Rocky Gerung
Rocky Gerung saat dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Istana Negara)

Oleh: Dahlan Iskan

Terbitnya aturan baru di MBG pun tenggelam oleh hebohnya Rocky Gerung yang masuk ke Wantimpres. Heboh Rocky Gerung hanya kalah oleh heboh pergantian Kapolri: dari Jenderal Lestyo Sigit Prabowo ke Jenderal Suyudi Ario Seto.

Bukan main membanjirnya ejekan, hujatan, meme sampai karangan bunga duka cita: R.I.P Rocky Gerung. Termasuk yang mengejek tekadnya di Wantimpres: tetap kritis dan kritis itu beda dengan kritik.

Saya tertarik dengan satu komentar yang mendasar. Yakni dari seorang akademikus hukum tata negara Universitas Gadjah Mada Yogyakarta: Prof Dr Zainal Arifin Mochtar.

"Rocky Gerung itu seorang sofis," ujarnya.

Sofisme bukan aliran. Bukan juga diambil dari nama orang. Itu diambil dari satu kata dalam bahasa Yunani ''Sophos''. Artinya: orang yang bijaksana karena punya pengetahuan yang luas dan terampil dalam olah kata.

Di Yunani, di zaman itu, orang-orang yang seperti Rocky Gerung biasa disebut golongan sofis. Tokohnya antara lain Protagoras dan Gorgias. Mereka hidup sekitar 400 tahun sebelum masehi.

Belakangan istilah ''sofis'' agak bergeser ke negatif: orang pintar, berpengetahuan luas, pandai berdebat untuk kemenangan dirinya sendiri.

Debat yang asli adalah debat untuk menemukan kebenaran. Maka ada yang menilai RG lebih negatif: debat Rocky Gerung jauh dari debat mencari kebenaran. Itu debat untuk memenangkan debat itu sendiri. Senjatanya adalah logika atau yang seolah logika.

Mungkin begitu yang dimaksud Prof Zainal Arifin Mochtar.

Salah satu senjata yang sering dipakai untuk ''memenangkan'' debat itu terlihat jelas: Rocky Gerung biasa menohok lawan debat dengan pertanyaan ''apakah sudah baca buku ini atau itu''. Biasanya itu judul buku ''berat'' dari masa lalu.

Kalau pun ada lawan debat yang ternyata sudah membaca buku dimaksud, Rocky tidak kehilangan akal. Ia masih bertanya: bagian mana dari buku itu yang diingat. Atau ''apa intisari buku itu''.

Gaya bertanya seperti itu sebenarnya bukan kebiasaan kelompok sofis. Tapi lebih ke gaya Socrates. Mungkin saja Rocky Gerung memang terobsesi Socrates.

Anda sudah tahu: di antara para filsuf zaman itu Socrates memang yang paling jago debat. Pun dibanding Plato dan Aristotelis. Plato lebih sastrawi. Aristotelis lebih ke sistematika berpikir. Socrates punya kemampuan lengkap.

Harus diakui Rocky Gerung memang pembaca buku yang luar biasa. Waktu ke rumahnya yang menempel di tebing terjal dekat Sentul itu saya minta izin ke toilet. Dengan cara itu saya bisa memasuki lorong-lorong rumahnya yang unik itu: di mana-mana buku. Buku karya pemikir siapa saja dari zaman apa saja ada di rumah itu.

Berita Terkait