Catatan Dahlan Iskan

ArtSubs Rambat

Inilah pameran seni terbesar di Indonesia: kalau tidak salah. Hebatnya pameran itu diselenggarakan di kota yang selama ini dikenal sebagai tanah tandusnya seni di Indonesia: Surabaya.

ArtSubs Rambat

Oleh: Dahlan Iskan

Inilah pameran seni terbesar di Indonesia: kalau tidak salah. Hebatnya pameran itu diselenggarakan di kota yang selama ini dikenal sebagai tanah tandusnya seni di Indonesia: Surabaya.

Nama pamerannya: ArtSubs. Seluruh kompleks Alon-Alon Surabaya diubah jadi galeri. Gedung-gedungnya, halamannya, dan teras-terasnya. Termasuk ruang bawah tanahnya. Semua diberi AC, termasuk yang di halaman. Memang halaman Alon-Alon pun dipasangi tenda tertutup kokoh; yang tidak bisa dibedakan dengan ruangan lainnya.

Inilah pameran yang untuk mempersiapkan fisiknya saja perlu 250 orang yang bekerja siang malam selama satu bulan penuh. Sudah begitu sering ada acara publik di Alon-Alon Surabaya. Tapi baru di ArtSubs ini lokasi peninggalan Belanda itu dipermak jadi pameran seni terbesar sepanjang pengetahuan saya.

Alon-Alon Surabaya berada di pusatnya pusat kota. Di Jalan Pemuda –terusan Jalan Tunjungan. Satu deret dengan Gedung Grahadi, bangunan yang dulu untuk pejabat tertinggi Belanda di Jawa Timur. Kini Grahadi jadi ''istana'' gubernur Jatim.

Alon-Alon Surabaya dulunya disebut Balai Pemuda. Dulunya lagi, di zaman Belanda, kompleks ini disebut De Simpangsche Societeit. Dibangun tahun 1907. Orang asli Surabaya menyebutnya Rumah Bola: ada permainan biliar di dalamnya. Di zaman itu hampir semua kota punya Rumah Bola –tempat orang Belanda dan Eropa mencari hiburan: dansa, bermusik, teater, dan main biliar. Disebut Simpang Club karena untuk masuk ke De Simpangsche Societeit harus menjadi anggotanya: pribumi dan anjing dilarang masuk.

Di Jakarta Rumah Bola itu disebut Gedung Harmoni –yang kini, dari luar, tampak hilang keanggunannya dan seperti tidak terawat.

Di Surabaya, Pemkot Surabaya memugarnya dengan sangat sukses: dua gedungnya dikembalikan ke bentuk dan arsitektur aslinya. Halaman luas di antara dua gedung itu dijadikan plaza terbuka yang tertata. Lalu ditambah ruang bawah tanah –termasuk untuk parkir. Wali Kota Surabaya saat itu, Tri Rismaharini berjuang untuk mendapatkan tanah pojok milik Pemda di seberang jalannya –tapi sudah telanjur jatuh ke swasta. Risma kalah di pengadilan.

Risma punya keinginan bangunan bawah tanah itu diperluas sampai ke bawah jalan raya, bahkan sampai ke tanah yang gagal direbut itu. Alangkah hebatnya kalau gubernur Jakarta juga membuat parkir bawah tanah yang besar di bawah Monasnya.

Sayang sekali Bu Risma membangun gedung DPRD Surabaya di kompleks ini. Kelak gedung itu harus digusur ke lokasi lain: politik dan seni itu bertentangan. Yang seni membangun kehalusan rasa, budi, dan budaya, yang politik menghasilkan sebaliknya. Apalagi untuk membangun gedung DPRD itu, dulu, harus menggusur markas Dewan Kesenian Surabaya (DKS) –entah ke mana DKS menggelandang sekarang.

Gedung-gedung De Simpangsche Societeit itu, dan sekalian halamannya, disulap jadi ruang untuk ArtSubs: pameran dibuka Sabtu lalu untuk durasi sampai tanggal 8 November. Untuk menyulap itu diperlukan kayu-kayu sebagai tapak lantai. Besi-besi penguat dinding dan triplek yang begitu banyaknya –kalau dijajar bisa sepanjang dua kilometer.

Memang, biar pun dinding gedung-gedung itu masih sangat baik, ArtSubs membuat dinding baru untuk melapisinya: agar sesuai dengan kebutuhan pameran lukisan.

Saya diajak cucunya Pak Iskan nonton ArtSubs Senin sore lalu: saya kaget. Tumben, pameran seni di Surabaya didatangi begitu banyak pengunjung.

Kami ditemani salah satu advisory board ArtSubs, Aris Utama yang rupanya teman gila sepedanya cucu Pak Iskan.

Anda sudah kenal Aris Utama: suami artis Olga Lydia itu.

Berita Terkait