Ubah Limbah Styrofoam Jadi Energi, Mahasiswa ITPLN Juarai ISS 3rd di Malaysia
Mahasiswa ITPLN raih Silver Medal ISS 2026 lewat REFOAM, inovasi digital untuk mengolah limbah styrofoam menjadi bahan bakar.
fin.co.id - Mahasiswa Institut Teknologi PLN (ITPLN) Adelia Putri Fibi Lestari dan Putri Sahira berhasil menorehkan prestasi internasional dengan meraih Silver Medal dalam Essay Competition International Student Summit (ISS) 3rd 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia. Keduanya mengusung REFOAM, gagasan digital untuk mengatasi persoalan rantai pasok limbah styrofoam sebagai bahan baku pirolisis menjadi bahan bakar.
REFOAM dirancang untuk menghubungkan masyarakat, pengumpul, dan pengolah limbah styrofoam melalui sebuah aplikasi. Gagasan tersebut berangkat dari persoalan pasokan styrofoam yang tidak stabil untuk kebutuhan proses pirolisis, meski material tersebut memiliki potensi untuk dikonversi menjadi bahan bakar.
Adelia mengatakan, gagasan REFOAM muncul setelah mereka mempelajari sejumlah jurnal dan paper mengenai pengolahan sampah. Dari berbagai jenis limbah, keduanya kemudian memusatkan perhatian pada styrofoam yang dinilai memiliki potensi untuk dikonversi menjadi bahan bakar melalui proses pirolisis.
"Awalnya kami membaca banyak jurnal dan paper, lalu terpikir kenapa tidak mengolah sampah plastik dan styrofoam. Setelah dipelajari lebih dalam, kami fokus ke styrofoam karena memiliki potensi untuk proses pirolisis menjadi bahan bakar," ujar Adelia saat berbincang, Senin, 21 September 2026.
Melalui REFOAM, masyarakat yang memiliki limbah styrofoam dapat memilih layanan pickup atau mengantarkan sampah melalui skema drop-off. Masyarakat kemudian memperoleh Green Reward sebagai insentif ekonomi. Sistem digital tersebut juga dirancang untuk memantau aliran limbah secara real-time, dari masyarakat hingga fasilitas pengolahan.
Sementara itu, Inovator lainnya, Putri menjelaskan, pembagian tugas dalam pengembangan REFOAM dilakukan berdasarkan keahlian masing-masing. Ia menangani arsitektur aplikasi, alur logistik digital, dan rancangan fitur, sementara Adelia berfokus pada analisis teknis pirolisis, kalkulasi potensi energi, serta metodologi penelitian. Keduanya tetap berkolaborasi dalam merumuskan ide, menyusun esai dan mempersiapkan presentasi.
"Salah satu tantangan terbesar adalah membuat simulasi rantai pasok yang realistis. Tim harus menghitung hubungan antara jumlah styrofoam yang dikumpulkan, potensi bahan bakar yang dihasilkan, hingga skema insentif agar masyarakat terdorong memilah sampah secara konsisten," ungkap Putri.
Berdasarkan perhitungan yang dilakukan dalam penelitian mereka, efisiensi konversi limbah menjadi bahan bakar cair melalui pirolisis terintegrasi diproyeksikan mencapai 89,3 persen. REFOAM juga diarahkan untuk mengurangi beban tempat pembuangan akhir dan pencemaran lingkungan sekaligus membuka peluang pemanfaatan limbah sebagai sumber energi alternatif.
"Yang kami tawarkan bukan hanya teknologi mesinnya, tetapi ekosistem dari hulu sampai hilir. Ada aplikasi untuk masyarakat, insentif ekonomi, sistem pengumpulan, sampai hasil energi. Itu yang membuat solusi REFOAM lebih utuh," kata Putri.
Inovasi REFOAM ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) 7, 11, 12, dan 13, masing-masing berkaitan dengan energi bersih dan terjangkau, kota dan permukiman berkelanjutan, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta penanganan perubahan iklim.
Baca Juga
Setelah meraih Silver Medal, keduanya berencana mematangkan prototipe aplikasi dan melakukan pilot project dengan menggandeng bank sampah lokal serta fasilitas laboratorium ITPLN.