Catatan Dahlan Iskan . 17/09/2026, 05:33 WIB
Oleh: Dahlan Iskan
Tiba-tiba tiket ke Manado saya dibatalkan. Tanpa alasan. Diganti yang lewat Makassar. Akibatnya, saya harus berangkat lebih pagi dan tiba di Manado lebih malam. Itu karena transit di Makassarnya empat jam lebih.
Anda sudah tahu perusahaan penerbangan apa yang punya kebiasaan seperti itu.
Untung ada teman-teman Disway Sulsel: saya bisa mampir ke kota Makassar. Untuk apa lagi kalau bukan makan ikan di resto kesayangan. Lalu diajak Sahabat Disway di sana, pesenam Nova Gozal dan pengusaha David Gozal (tidak ada hubungan keluarga; yang satu suku Hokkian, satunya lagi suku Hakka) untuk mencoba sesuatu yang baru di Makassar --akan saya tulis edisi Minggu depan.
Selasa malam saya tiba di Manado. Tidak bisa ke mana-mana lagi. Tidur! Rabu pagi, setelah tampil di Dismorning, saya ingin ke Paputungan --satu jam dari Manado. Di situlah kawasan ekonomi khusus pariwisata ditetapkan. Luasnya ratusan hektare. Segala macam wisata tingkat dunia akan dibangun. Termasuk theme park yang spektakuler. Beberapa hotel akan dibangun --salah satunya bintang lima pertama di Manado.
Bahkan pemilik awal proyek ini sudah membeli kapal selam jenis wisata bawah laut --yang hanya ada dua di dunia. Begitu besar mimpi pariwisata di Paputungan.
Proyek ini gagal. Terjadi kesulitan ekonomi yang berat. Sebenarnya sudah lama saya ingin ke Paputungan untuk melihatnya tapi selalu saja gagal. Ketika saya dengar proyek itu macet hilanglah alasan untuk ke Paputungan.
Belakangan saya mendapat informasi menggembirakan. Proyek macet itu ada yang menyelamatkan: William Katuari. Anda sudah tahu siapa William: orang Tulungagung yang kini jadi konglomerat hebat. Ia produsen SoKlin. Buka Bank Ekonomi. Lalu sukses mengembangkan mie Sedaaap!
William akhirnya masuk ke bisnis hotel: Hotel bintang lima Kempinski di Bali. Kini William sedang memulai kawasan wisata Paputungan Manado dengan menyelesaikan hotel yang macet di sana. Tentu dengan konsep baru. Cakrawala baru. Jadilah hotel bintang lima pertama di Sulawesi: JW Marriott.
Dari jauh hotel itu sudah kelihatan jadi. Menjulang tinggi 16 lantai di bibir pantai. Sendirian. Sekitarnya masih alam Sulut yang asli dengan pohon pala dan kelapanya.
"Akhir Oktober nanti harus jadi," ujar seorang staf di situ. Salah satunya GM JW Marriott berkebangsaan Spanyol dari Barcelona.
Saya diajak naik ke lantai atas. Ke kamar yang sudah siap menerima tamu. Kamar-kamarnya dibuat sedemikian rupa adilnya: pilih deretan kamar kanan berarti pemandangannya matahari terbenam; pilih deretan kiri pemandangannya ke matahari terbit. Terbitnya seperti muncul dari laut. Tenggelamnya seperti masuk laut.
Dari atas terlihat kolam renang bertingkat-tingkat yang air dari kolam paling atasnya melimpah ke kolam di bawahnya. Kolam terbawah adalah kolam renang air laut karena levelnya memang sejajar dengan laut.
Jatuhnya bangunan induk hotel itu seperti di atas bukit. Bagi yang ingin bermalam di pinggir laut disediakan beberapa cottages. Lokasinya di kiri dan kanan 'teluk buatan'. Setiap cottage punya akses ke laut sendiri-sendiri. Dari kamar di cottage itu bisa langsung masuk laut jernih. Belum ada polusi di sana.
Air di pantainya sepinggang. Ideal.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id