Catatan Dahlan Iskan . 16/09/2026, 05:28 WIB

Purbaya DJuamputh

Penulis : Afdal Namakule
Editor : Afdal Namakule

Oleh: Dahlan Iskan

Budaya kita ternyata sudah setara dengan Amerika: memberhentikan seseorang cukup lewat telepon. Sangat efisien: Anda diberhentikan. Titik. Tidak perlu ada alasan yang bisa didengar oleh yang diberhentikan. Itu sepenuhnya otoritas yang memberhentikan.

Pakai cara apa pun toh hasilnya sama: diberhentikan. Lebih baik cepat diberitahu daripada kepikiran berlama-lama.

Misalkan Senin siang kemarin itu. Bisa saja dengan cara yang lebih ”manusiawi”. Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa diberi kesempatan dulu untuk menyelesaikan paparan di pleno DPD.

Secarik memo berisi pesan telepon dari mensesneg itu cukup diberikan ke pimpinan sidang. Setelah membaca isinya pimpinan sidang minta agar Purbaya mempersingkat paparan.

Setelah paparan selesai barulah pimpinan sidang menyerahkan memo itu ke Purbaya. Isinya bukan pemberitahuan bahwa Purbaya diberhentikan tapi agar menkeu segera ke istana.

Paparan pun dipersingkat. Sidang ditutup. Purbaya bergegas ke istana: 30 menit bisa sampai di istana. Di situ Purbaya menemui mensesneg. Tidak akan makan waktu lama. Bisa hanya lima menit. Bisa langsung to the point: Presiden memutuskan mengangkat menteri keuangan yang baru menggantikan Anda. Cukup begitu. Lalu SK pemberhentian diserahkan.

Rasanya, biar pun pakai cara itu tidak akan menghambat penggantian. Paling hanya tertunda satu jam. Kesannya akan jauh lebih baik dari yang terjadi Senin lalu (baca komentar pilihan dari perusuh Disway Agus Soeryonegoro di bawah tulisan ini).

Tapi memang ”kesan” hanyalah sebuah basa-basi. Bangsa ini sudah terlalu gawat dalam berbasa-basi. Salam di awal pidato saja misalnya sampai tujuh macam. Bahkan sejak Presiden Prabowo menjadi delapan macam --ada salam ala Kristen dan ada salam ala Katolik. Semoga saja tidak ada tuntutan yang sama untuk membedakan salam Islam NU dan Muhammadiyah.

Tentu ini sebuah paradoks: dalam memberi salam begitu penuh basa-basi. Tapi dalam memberhentikan orang lewat telepon. Tidak ada yang salah. Masih lebih sopan dibanding beberapa laki-laki yang menceraikan istri lewat WA.

Kalau misalkan yang diberhentikan dengan cara itu adalah saya, saya pun bisa menerima. Saya anggap sama dengan diberhentikan dengan cara penuh basa-basi.

Purbaya mungkin juga punya perasaan yang sama. Purbaya kan lama tinggal di Amerika. Sudah biasa melihat kejadian seperti itu. Buktinya tidak ada reaksi yang berlebihan atas pemberhentiannya. Purbaya justru bisa menjadi menteri keuangan yang sebenarnya setelah diberhentikan: sangat pelit bicara.

Yang menarik justru sebuah akun fanbase Purbaya yang viral di medsos. Singkat. Abu-abu. Sulit ditafsirkan arahnya. Tapi ada kandungan lucunya yang menjadi gaya khas Purbaya selama menjadi menteri.

Sore itu akun fanbase itu posting wajah tersenyum Purbaya dalam baju batik dan celana hitamnya. Tanpa pidato. Tanpa ucapan kata-kata. Hanya ada teks tiga kata dalam captionnya: "Sudah siap belum?"

Ketika ada netizen yang bertanya apakah Purbaya sudah siap memberikan kejutan, reaksinya juga sulit ditafsirkan. Akun itu hanya menjawab dengan enam huruf: hehehe.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id