Ekonomi . 09/09/2026, 20:59 WIB
fin.co.id - Pemerintah Indonesia terus mengajak berbagai pihak untuk mewujudkan hasil nyata semangat resiliensi berkelanjutan di tengah ancaman bencana yang meningkat. Pembelajaran dari gempa bumi Yogyakarta 20 tahun lalu kembali merefleksikan pentingnya kolaborasi banyak pihak dalam membangun ketangguhan.
Wakil Menteri (Wamen) Perencanaan Pembangunan Nasional/Wakil Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Febrian Alphyanto Ruddyard menyampaikan, resiliensi sejati muncul ketika berbagai institusi dapat bekerja sama secara terpadu.
Langkah tersebut dapat mengubah tindakan yang terfragmentasi menjadi dampak yang selaras. Hal ini ditunjukkan pascabencana gempa Yogyakarta 2010 ketika proses pemulihan dilakukan bersama-sama. Warga, komunitas, pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan mitra internasional berkolaborasi untuk membangun kembali dengan lebih baik.
“Apa yang terjadi setelahnya sama pentingnya. Warga saling membantu, kelompok masyarakat dan pemerintah daerah merespons. Pemerintah pusat memobilisasi bantuan, dan mitra internasional berdatangan,” ujar Wamen Febrian pada pembukaan The 3rd Global Forum for Sustainable Resilience (GFSR), ADEXCO 2026 dan IEE Series Engineering Week 2026, di Jakarta, Rabu (9/9).
Perubahan Iklim dan Risiko Bencana Semakin Saling Terkait
Di sisi lain, Febrian juga menyampaikan bahwa perubahan iklim, risiko bencana, degradasi lingkungan, kerentanan ekonomi, dan pembangunan semakin saling terkait.
Namun, institusi, mekanisme pendanaan, proses perencanaan, dan sistem akuntabilitas sering kali berkembang secara terpisah. Karena itu, tantangan saat ini bukan sekadar membuat lebih banyak kebijakan, kerangka kerja, atau institusi.
“Tantangannya adalah bagaimana membuat semuanya bekerja secara bersama-sama. Dan ini membutuhkan pergeseran mendasar dalam cara kita memandang resiliensi,” ujarnya.
Lebih lanjut Febrian menambahkan, resiliensi harus berhenti diperlakukan sebagai sekadar agenda di seputar pembangunan. Resiliensi harus menjadi kualitas dari pembangunan itu sendiri.
“Kita harus mengubah cara kita merencanakan, berinvestasi, membangun, dan mengukur kemajuan,” kata Wamen Febrian.
Pada akhirnya, semua upaya tersebut harus berjalan di tingkat lokal karena ketangguhan diwujudkan secara lokal. Resiliensi nasional sejatinya merupakan hasil dari jutaan keputusan yang dibuat di lapangan.
Langkah konkret dapat dilakukan ketika komunitas dan daerah merencanakan pembangunan sekolah atau jalan, melindungi sungai, maupun memperhitungkan risiko iklim di masa depan.
GFSR 2026 Dorong Pergeseran dari Konsep Menuju Aksi Nyata
Sementara itu, GFSR menjadi forum untuk saling bertukar pembelajaran dan gagasan dengan membawa semua pihak, dari tingkat lokal hingga global, untuk selangkah lebih maju.
Forum global pertama membantu meletakkan fondasi bagi resiliensi berkelanjutan. Forum kedua mendalami dialog regional, sedangkan forum ketiga ini dirancang untuk melakukan pergeseran yang terencana, dari pembangunan konsep menuju pelaksanaan dan dari dialog menuju dampak yang nyata.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id