Ragam

Asuransi Jasindo Dorong Kesiapan Hadapi Risiko Berantai Erupsi Gunung Api Jakarta, 8 September 2026

Aktivitas vulkanik mengingatkan pentingnya mitigasi risiko bagi masyarakat dan dunia usaha untuk menghadapi bencana serta menjaga keberlangsungan usaha.

Asuransi Jasindo Dorong Kesiapan Hadapi Risiko Berantai Erupsi Gunung Api Jakarta, 8 September 2026
Aktivitas vulkanik mengingatkan pentingnya mitigasi risiko bagi masyarakat dan dunia usaha untuk menghadapi bencana serta menjaga keberlangsungan usaha.

fin.co.id - Aktivitas vulkanik yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa waktu terakhir menjadi pengingat bahwa risiko bencana alam merupakan bagian dari kehidupan yang perlu dipahami dan dipersiapkan. Dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat di sekitar gunung berapi, tetapi dapat meluas hingga mengganggu mobilitas, aktivitas ekonomi, serta keberlangsungan dunia usaha.

Bagi masyarakat, gangguan tersebut dapat berarti perubahan perjalanan atau penerbangan. Sementara bagi dunia usaha, sebuah kejadian di satu lokasi dapat berkembang menjadi risiko berantai. Erupsi, misalnya, dapat menyebabkan gangguan penerbangan dan transportasi, yang kemudian berdampak pada distribusi, mobilitas, operasional usaha hingga potensi kerugian.

Direktur Operasional Asuransi Jasindo, Ocke Kurniandi, mengatakan dalam menghadapi risiko bencana, kesiapsiagaan perlu dibangun sebelum suatu risiko terjadi.

“Dalam situasi seperti ini, keselamatan tentu menjadi prioritas utama. Pada saat yang sama, kita juga perlu menyadari bahwa dampak sebuah bencana dapat meluas ke berbagai aktivitas masyarakat dan dunia usaha. Karena itu, penting bagi kita untuk memahami risiko yang mungkin muncul, menyiapkan langkah mitigasi, serta memiliki rencana apabila terjadi gangguan terhadap aktivitas yang kita jalankan,” ujar Ocke.

Menurut Ocke, prinsip tersebut dapat diterapkan oleh berbagai pihak, baik masyarakat, pelaku usaha maupun pemerintah. Rumah, kendaraan, perjalanan, tempat usaha, stok barang hingga aset dan fasilitas publik memiliki profil risiko yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan perlindungan yang sesuai. Bagi pelaku usaha, langkah awal dapat dilakukan dengan memetakan aset dan aktivitas yang paling kritikal, mengidentifikasi potensi gangguan, serta menyiapkan alternatif apabila terjadi hambatan pada transportasi, distribusi maupun rantai pasok.

Sementara bagi masyarakat, pemahaman terhadap kondisi perjalanan, aset yang dimiliki, serta perlindungan yang tersedia dapat menjadi bagian dari kesiapsiagaan menghadapi risiko. Pendekatan serupa juga relevan dalam pengelolaan Barang Milik Negara (BMN).

Sebagai Ketua Konsorsium Asuransi Barang Milik Negara (ABMN), Asuransi Jasindo turut berperan dalam ekosistem perlindungan BMN melalui pengelolaan risiko dan perlindungan sesuai dengan ketentuan serta cakupan pertanggungan yang berlaku.

“Pengelolaan aset negara juga membutuhkan pemahaman risiko yang baik. Setiap aset memiliki karakteristik dan profil risiko yang berbeda, sehingga perlindungannya perlu disusun berdasarkan kebutuhan dan ketentuan yang berlaku. Prinsipnya sama, yaitu mengenali risiko lebih awal, melakukan mitigasi, dan menyiapkan perlindungan yang tepat agar keberlangsungan fungsi aset dapat tetap menjadi perhatian ketika terjadi suatu kejadian,” jelas Ocke.

Menurutnya, kemampuan untuk mengenali risiko sebelum menjadi kerugian merupakan bagian penting dari pengelolaan risiko yang berkelanjutan. Pendekatan tersebut juga sejalan dengan semangat Risk Management Partnership yang terus diperkuat Asuransi Jasindo.

Ocke menjelaskan pengelolaan risiko tidak berhenti pada perlindungan ketika kerugian terjadi, tetapi dimulai dari mengenali risiko, melakukan pencegahan dan mitigasi, membangun kesiapsiagaan, hingga menyiapkan strategi pemulihan. Dalam konteks tersebut, asuransi menjadi salah satu instrumen dalam pengelolaan risiko melalui mekanisme transfer risiko.

Namun, masyarakat dan pelaku usaha perlu memahami bahwa setiap produk dan polis memiliki ruang lingkup perlindungan yang berbeda. Pemegang polis perlu memahami risiko yang dijamin maupun dikecualikan, periode pertanggungan, persyaratan polis serta dokumen yang diperlukan apabila terjadi klaim. Pemahaman tersebut penting agar perlindungan yang dimiliki dapat berfungsi secara optimal sesuai dengan kebutuhan dan ketentuan pertanggungan.

“Bagi Asuransi Jasindo, pengelolaan risiko bukan hanya mengenai apa yang dilakukan ketika kerugian sudah terjadi. Yang lebih penting adalah bagaimana kita bersama-sama mengenali risiko sejak awal, melakukan mitigasi, menyiapkan perlindungan yang sesuai, dan membangun kemampuan untuk kembali pulih apabila terjadi gangguan,” kata Ocke.

Melalui pendekatan Risk Management Partnership, Asuransi Jasindo berkomitmen untuk terus mendorong kesadaran masyarakat dan dunia usaha terhadap pentingnya pengelolaan risiko secara menyeluruh. Pendekatan tersebut menempatkan kesiapsiagaan, mitigasi, perlindungan dan pemulihan sebagai bagian yang saling berkaitan dalam menghadapi berbagai risiko.

“Yang ingin kami dorong adalah kebiasaan untuk mengenali risiko lebih awal, melakukan mitigasi, melindungi hal-hal yang bernilai, dan memiliki kesiapan untuk pulih ketika risiko terjadi. Dengan kesiapan yang lebih baik, kita dapat mengurangi dampak yang mungkin ditimbulkan oleh sebuah risiko,” tutup Ocke.

Berita Terkait