Catatan Dahlan Iskan . 07/09/2026, 06:04 WIB

Payung Debu

Penulis : Esnoe Faqih Wardhana
Editor : Esnoe Faqih Wardhana

Oleh: Dahlan Iskan

Bandara "dibuang sayang" Kertajati akhirnya ada gunanya. Pesawat Garuda dari Jeddah akan mendarat di Kertajati lantaran Soekarno-Hatta ditutup akibat abu letusan gunung Anak Krakatau kemarin.

"Bandara Jakarta tutup" adalah bencana tersendiri. Indonesia terlalu tergantung pada Jakarta. Lebih 300 penerbangan batal mendarat di Jakarta (Cengkareng dan Halim). Itu adalah berita duka yang mendalam. Utamanya dilihat secara ekonomi.

Bertubi-tubi bencana datang: kebakaran hutan, gempa bumi dan kini debu vulkanik. Nilai kerugian ekonomi semua itu ratusan triliun rupiah.

Debu vulkanik memang sangat dihindari penerbangan. Beda dengan asap. Debu vulkanik bisa membuat mesin pesawat tiba-tiba mati.

Anda sudah tahu: debu vulkanik halus sekali. Keras sekali. Seperti batu. Begitu masuk mesin-pesawat benda keras itu mencair --terkena suhu yang sangat panas. Lalu mengganggu sistem udara. Mesin mati. Itu pernah dialami pesawat Boeing 474 British Airways di saat Gunung Galunggung di Jabar meletus. Pesawat itu jurusan Sidney-London. Melintas di atas Jabar. Tinggi sekali: 47.000 kaki.

Tentu arah angin juga menentukan bandara mana saja yang terimbas kali ini: Lampung, Cengkareng, Halim, Pondok Cabe dan Bandung.

Semoga Kertajati benar-benar aman. Tapi karena Garuda dari Jeddah itu datang dari arah barat jangan sampai tidak aman. Mungkin saja jalur terbangnya diubah sedikit, melengkung ke utara dulu, tidak melintas di utara Jakarta.

Tentu banyak orang Jakarta yang mau mendarat di Kertajati --daripada tidak bisa pulang. Dari Kertajati hanya perlu dua jam pakai mobil ke Jakarta. Maka bisa jadi Kertajati jadi tujuan darurat semua penerbangan domestik menuju Jakarta.

Saya sendiri langsung batal ke bandara Cengkareng. Begitu selesai olahraga saya putuskan ke Surabaya jalan darat. Kemarin saya senam bersama Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) di Bundaran Hotel Indonesia Jakarta.

Saya pun pamit ke Gubernur DKI Jalarta Pramono Anung dan Ketua Umum PSMTI, Willianto Tanta yang jadi tokoh sentral kemarin pagi. PSMTI memang sedang Munas di Jakarta.

Tim sepakbola Persebaya juga harus meninggalkan Lampung lewat jalan darat, naik feri, sambung bus.

Salah satu daya tarik jalan darat adalah: lewat Tegal. Berarti bisa mampir sate kambing muda 'Cempe Lemu'. Mudah. Praktis. Tidak jauh dari mulut exit tol.

Setiap kali mampir Cempe Lemu selalu saya lihat kemajuannya. Awalnya dulu hanya kecil, tidak ber-AC. Lalu buka yang baru: tidak sampai 100 meter di timurnya. Bangunannya bagus. Pakai AC. Dua lantai.

Mampir lagi kemarin, yang baru itu sudah punya lahan pakir luas. Kelihatannya Cempe Lemu baru saja membeli tanah parkir itu. "Cabangnya yang di tengah kota Tegal lebih mewah lagi," ujar Mas Syukron, pimpinan Radar Tegal yang menemani saya makan sate, sop, dan krengsengan serba kambing.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id