Otomotif . 04/09/2026, 13:00 WIB

Tertekan Merek Mobil China, Volkswagen akan Pangkas hingga 100 Ribu Karyawan

Penulis : Makruf
Editor : Makruf

fin.co.id - Volkswagen menyetujui rencana pengurangan tambahan sekitar 50.000 karyawan sebagai bagian dari program perombakan besar-besaran perusahaan. Keputusan tersebut membuat total tenaga kerja yang ditargetkan berkurang hingga sekitar 100.000 orang pada 2030.

Langkah ini menjadi salah satu restrukturisasi terbesar dalam hampir sembilan dekade sejarah Volkswagen. Produsen mobil asal Jerman itu sedang menghadapi tekanan dari penurunan laba, melemahnya penjualan di pasar utama, hingga persaingan yang semakin agresif dari merek mobil China.

Volkswagen menaungi sejumlah merek besar, antara lain Audi, Porsche, Skoda, Seat, Bentley, dan Lamborghini. Pada 2025, grup tersebut mempekerjakan lebih dari 660.000 orang di berbagai negara.

Tambahan 50 Ribu Karyawan Masuk Rencana Baru

Volkswagen sebelumnya telah mengumumkan rencana pengurangan sekitar 50.000 tenaga kerja hingga akhir dekade ini. Persetujuan terbaru dari dewan perusahaan menambah target pengurangan dengan jumlah serupa.

Dengan demikian, perusahaan memperkirakan penyesuaian tenaga kerja di seluruh grup mencapai kurang lebih 100.000 orang sampai 2030. Pengurangan itu juga mencakup jajaran manajemen.

Istilah yang digunakan Volkswagen adalah penyesuaian tenaga kerja. Dalam praktiknya, pengurangan jumlah karyawan di perusahaan besar dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti pensiun, tidak memperpanjang kontrak, pembatasan perekrutan baru, program pengunduran diri sukarela, maupun PHK. Namun, besarnya target tersebut tetap menunjukkan tekanan serius yang sedang dihadapi perusahaan.

CEO Volkswagen Oliver Blume menyebut keputusan ini sebagai “sinyal kuat” bagi masa depan perusahaan. Menurutnya, langkah tersebut diperlukan agar Volkswagen dapat mengambil tanggung jawab terhadap kondisi bisnis dan tenaga kerjanya secara menyeluruh.

Persaingan Merek Mobil China Semakin Ketat

Salah satu masalah utama Volkswagen adalah perubahan lanskap industri otomotif global. Merek mobil China berkembang pesat, terutama dalam segmen kendaraan listrik dan kendaraan berteknologi tinggi dengan harga lebih terjangkau.

Produsen seperti BYD mampu meningkatkan penjualan di berbagai pasar, termasuk Inggris, Uni Eropa, dan Asia Tenggara. Keunggulan biaya produksi, kecepatan pengembangan model baru, serta ekspansi kendaraan listrik membuat persaingan menjadi lebih berat bagi pabrikan lama dari Eropa.

China sebelumnya merupakan salah satu pasar terpenting Volkswagen. Namun, penjualan perusahaan di negara tersebut mengalami tekanan saat konsumen semakin banyak memilih merek lokal. Perubahan preferensi itu berdampak besar karena pasar China selama bertahun-tahun menjadi salah satu sumber pertumbuhan Volkswagen.

Tekanan juga datang dari Amerika Serikat. Penjualan Volkswagen di negara tersebut disebut turut terdampak tarif impor kendaraan yang diberlakukan pemerintahan Presiden Donald Trump. Ketika penjualan melemah dan biaya meningkat, perusahaan dituntut mencari cara untuk mempertahankan keuntungan.

Produksi Model Mobil akan Dikurangi

Selain memangkas tenaga kerja, Volkswagen berencana mengurangi jumlah model kendaraan yang diproduksi hingga 50 persen pada 2035. Kompleksitas penawaran produk juga akan dipangkas sampai 75 persen.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id