Internasional . 28/08/2026, 09:02 WIB
fin.co.id - Banjir bandang yang melanda kawasan perbatasan Nepal dan Tibet berubah menjadi salah satu bencana paling mematikan di wilayah Himalaya. Hingga Jumat pagi waktu setempat, sedikitnya 389 orang dilaporkan meninggal dunia di Nepal, sementara lebih dari 900 orang masih hilang, termasuk ratusan warga negara asing dan wisatawan.
Di tengah pencarian korban yang terus berlangsung, otoritas di kedua negara kini menghadapi ancaman baru. Sebuah danau dari akumulasi air dilaporkan terbentuk di area perbatasan China-Nepal. Kenaikan volume air di danau tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa tanggul alami di sekitarnya dapat jebol dan memicu banjir susulan di wilayah hilir.
Bencana bermula pada Rabu pagi ketika terjadi aktivitas seismik berkekuatan magnitudo 5,2 di sekitar perbatasan Nepal-Tibet. Pada tahap awal, peristiwa tersebut diduga sebagai gempa bumi yang kemudian menyebabkan longsor.
Namun, Survei Geologi Amerika Serikat atau USGS kemudian menjelaskan bahwa getaran itu berkaitan dengan runtuhan gletser. Massa es, batuan, tanah, dan material lain dari kawasan pegunungan runtuh dengan kekuatan besar, lalu bergerak menuruni lembah.
USGS menyebut aliran material dari peristiwa tersebut menyebabkan “dampak bencana di wilayah hilir”. Dalam beberapa saat, gelombang air bercampur lumpur, batu, dan puing menerjang jalur sungai, menghanyutkan bangunan, kendaraan, serta infrastruktur jalan yang berada di sekitarnya.
Runtuhan gletser dapat menghasilkan sinyal seismik karena jutaan ton es dan batuan bergerak atau menghantam dasar lembah. Fenomena ini berbeda dari gempa tektonik yang terjadi akibat pergeseran lempeng bumi, tetapi dampaknya dapat sama berbahayanya bagi permukiman di wilayah pegunungan dan aliran sungai.
Setelah banjir pertama, perhatian pemerintah China dan Nepal tertuju pada danau yang terbentuk akibat sumbatan material di salah satu kawasan perbatasan. Tumpukan es, batuan, lumpur, dan puing dapat menghalangi aliran sungai, sehingga air tertahan dan membentuk danau sementara.
Situasi seperti ini sangat berisiko karena sumbatan alami umumnya tidak stabil. Ketika volume air terus bertambah akibat aliran sungai, hujan, atau pencairan es, tekanan terhadap tanggul material semakin besar. Jika tanggul itu runtuh, air dapat mengalir deras ke hilir dalam waktu singkat.
Kementerian Sumber Daya Air China dilaporkan sedang mempersiapkan kemungkinan danau tersebut meluap atau menjebol tanggul alaminya. Ancaman itu membuat proses penyelamatan menjadi lebih sulit karena petugas harus bekerja cepat, sekaligus mempertimbangkan keselamatan tim di lapangan dan warga yang tinggal di jalur aliran air.
Kondisi geografis Himalaya memperbesar potensi bahaya. Lembah yang sempit dan curam dapat membuat air bergerak lebih cepat, membawa batu berukuran besar, batang pohon, serta material bangunan. Banjir susulan juga dapat merusak jembatan dan jalan, sehingga wilayah terdampak semakin terisolasi.
Pencarian korban terus dilakukan oleh personel sipil dan militer Nepal. Selain mengevakuasi warga di daerah terdampak, tim penyelamat juga berupaya menjangkau orang-orang yang terjebak di akses jalan dan terowongan.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id