Internasional . 16/08/2026, 09:45 WIB
fin.co.id - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak hanya melahirkan produk dan perusahaan bernilai besar. Dalam beberapa tahun terakhir, para pemimpin perusahaan teknologi juga semakin sering menulis manifesto panjang untuk menjelaskan bagaimana mereka membayangkan masa depan yang akan dibentuk oleh AI.
Fenomena ini kembali menjadi perhatian setelah CEO Meta Mark Zuckerberg menerbitkan tulisan sepanjang sekitar 6.500 kata berjudul "The Future is for Everyone". Dalam tulisan tersebut, Zuckerberg menjelaskan pandangannya tentang masa depan AI dan superintelligence, termasuk gagasan bahwa teknologi tersebut seharusnya dapat diakses secara luas dan digunakan untuk meningkatkan kemampuan manusia. Pandangan tersebut juga menempatkan Meta sebagai perusahaan yang ingin membangun personal superintelligence untuk sebanyak mungkin orang.
BBC dalam laporan "Why tech bosses keep sharing their manifestos about AI" melihat tulisan Zuckerberg sebagai contoh terbaru dari tren yang semakin sering dilakukan para bos perusahaan teknologi. Mereka tidak hanya menjelaskan produk yang sedang dikembangkan, tetapi juga berusaha menyampaikan visi yang lebih luas mengenai masa depan manusia dan teknologi.
Sebelum Zuckerberg menerbitkan manifestonya, sejumlah tokoh besar di industri teknologi sudah melakukan hal serupa.
Marc Andreessen, salah satu pendiri Netscape, pada 2023 menulis "The Techno-Optimist Manifesto". Tulisan tersebut menyuarakan keyakinan bahwa inovasi dan perkembangan teknologi dapat menjadi kekuatan untuk menyelesaikan berbagai persoalan manusia.
Kemudian pada 2024, CEO OpenAI Sam Altman menerbitkan tulisannya mengenai "The Intelligence Age". Dalam gagasan tersebut, Altman menggambarkan AI sebagai teknologi yang dapat membantu manusia menjadi jauh lebih mampu dan membuka kemungkinan baru dalam ilmu pengetahuan, kesehatan, pendidikan, serta berbagai bidang lainnya.
OpenAI sendiri masih merujuk gagasan Altman mengenai "The Intelligence Age" dalam berbagai komunikasi resminya. Perusahaan tersebut menggambarkan AI sebagai teknologi yang berpotensi membantu manusia memecahkan persoalan yang sebelumnya sulit atau bahkan tidak mungkin diselesaikan.
CEO Anthropic Dario Amodei juga menyampaikan pandangan serupa melalui esai "Machines of Loving Grace". Anthropic sendiri kemudian merujuk tulisan Amodei tersebut ketika membahas kemungkinan munculnya sistem AI yang sangat kuat dalam waktu relatif dekat.
Artinya, manifesto Zuckerberg bukan fenomena yang berdiri sendiri. Ada pola yang semakin jelas di antara para pemimpin perusahaan AI.
Salah satu alasannya adalah karena AI sudah tidak lagi dianggap sekadar produk teknologi biasa.
Perkembangan AI mulai menyentuh pekerjaan, pendidikan, kesehatan, keamanan, ekonomi, hingga kehidupan sosial. Karena dampaknya semakin luas, para pemimpin perusahaan teknologi memiliki kepentingan untuk ikut menentukan bagaimana masyarakat memahami teknologi tersebut.
BBC mengutip ekonom dan penulis Noah Smith yang menilai para eksekutif tersebut merasa perkembangan AI begitu penting sehingga mereka perlu melakukan sesuatu untuk memengaruhi arah teknologi tersebut.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id