Ragam . 09/08/2026, 12:50 WIB

Menjaga Asa di Surga Bahari, Dedikasi Mantri BRI untuk Masyarakat Wakatobi

Penulis : AdminFIN
Editor : AdminFIN

fin.co.id - Di gugusan Kepulauan Wakatobi, sebuah wilayah yang dikenal dunia karena keindahan bawah lautnya, tersimpan kisah perjuangan. Di balik ketenangan air lautnya, terdapat tantangan nyata bagi mereka yang bertugas memastikan roda ekonomi tetap berputar di beranda negeri. Salah satunya adalah Wa Ode Sitti Rahmatiah Jufri, atau yang akrab disapa Titin, seorang Mantri BRI dari Unit Wangi-Wangi, Kantor Cabang BRI Baubau.

Sebagai seorang Mantri, ia adalah ujung tombak literasi dan inklusi keuangan bagi masyarakat. Sejak dimutasi pada Januari 2024, Titin harus menerima kenyataan bahwa wilayah kerjanya bukan hanya daratan, melainkan sembilan desa di Pulau Kaledupa yang harus ditempuh dengan menyeberangi lautan lepas dari ibu kota kabupaten, Wangi-Wangi.

Perjalanan rutin Titin dari kantor di Wangi-Wangi menuju wilayah kerjanya di Kaledupa adalah sebuah narasi tentang keberanian. Dalam kondisi normal, perjalanan menggunakan kapal fiber atau speedboat memakan waktu sekitar 1 jam 40 menit. Namun, ketika alam sedang tidak bersahabat, perjalanan itu bisa berubah menjadi selama lebih dari dua jam di tengah gempuran ombak.

“Salah satu pengalaman yang paling melekat dalam ingatan saya adalah saat ia harus menyeberang pada musim ombak besar sekitar bulan Januari atau Februari. Saat itu, cuaca mendadak gelap dan tidak ada satu pun kapal reguler yang berani mengambil risiko untuk menyeberang. Namun, karena komitmen saya terhadap nasabah, saya harus mencari cara lain untuk pulang. Akhirnya, kami menyewa 'body batang' (perahu kecil bermesin) milik suku Bajo," kenang Titin.

Bersama lima orang lainnya, sehingga total berjumlah enam orang yang terdiri dari tiga perempuan dan tiga laki-laki, ia memaksakan diri menembus lautan yang saat itu sedang mengamuk. Di tengah laut, mereka berhadapan dengan dinding air setinggi empat meter.

"Lailahaillallah, itu kalau kita sudah di atas ombak, kita lihat ke bawah itu tinggi sekali. Kita dikasih naik, lalu turun lagi ke bawah, dan sekeliling kita itu cuma ada air," tuturnya menggambarkan situasi mencekam tersebut.

Perjalanan yang seharusnya singkat membengkak menjadi hampir tiga jam. Mereka tiba di Wangi-Wangi menjelang magrib dengan kondisi baju basah kuyup, kelelahan, namun bersyukur masih diberi keselamatan. Pengalaman ini menjadi pengingat bagi Titin bahwa profesinya bukan sekadar tentang angka, tetapi juga tentang mempertaruhkan nyawa demi melayani masyarakat.

Ia bercerita, motivasi terbesar Titin bertahan di wilayah yang penuh tantangan adalah keinginan untuk membantu sesama. Titin memahami bahwa ekonomi masyarakat kepulauan sangat bergantung pada alam. Di Kaledupa, sebagian besar warga menggantungkan hidup dari rumput laut dan kopra.

“Ketika musim ombak besar tiba, hasil rumput laut biasanya menurun drastis karena hancur diterjang arus. Saat itu, masyarakat biasanya beralih fokus mengolah kopra,” katanya.

Di tengah kondisi tersebut, peran Titin sebagai Mantri BRI menjadi penting. Ia tidak hanya menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk modal usaha, tetapi juga membantu nasabah mencari jalan keluar atas persoalan yang mereka hadapi.

Ia pun menyebut, salah satu kisah yang membekas bagi Titin adalah perjuangan seorang anak nasabah yang berupaya membiayai kuliahnya. Di saat yang sama, orang tuanya juga harus memenuhi kewajiban cicilan kredit. Sang anak kemudian membantu keluarganya mengumpulkan kopra hingga memperoleh empat karung tambahan untuk menutup kebutuhan kuliah sekaligus kewajiban kepada bank.

Melihat kejujuran dan kegigihan keluarga tersebut, Titin berinisiatif membantu lebih jauh. Ia memanfaatkan data klaster pengusaha kopra yang dimiliki BRI untuk mempertemukan nasabah dengan pembeli atau pengepul yang memiliki akses ekspedisi sendiri. “Namanya kita di BRI kan ada data klaster pengusaha. Jadi saya bantu pertemukan dengan pembelinya langsung agar mereka tidak kesulitan menjual hasil buminya,” jelas Titin.

Bagi Titin, melihat nasabah mampu menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi dengan dukungan modal dari BRI menjadi kepuasan batin yang tidak ternilai.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa tantangan di Kaledupa tidak hanya datang dari ombak, tetapi juga keterbatasan infrastruktur digital. Di wilayah kerja Titin, masih banyak area yang masuk kategori wilayah tanpa sinyal.

Namun, kondisi tersebut tidak menghentikan langkah BRI untuk tetap hadir. Dari sembilan desa yang ditangani Titin, empat BRILink Agen berhasil diaktifkan di desa-desa yang memiliki jaringan internet relatif memadai. Secara keseluruhan, terdapat enam agen aktif yang menjadi perpanjangan layanan BRI di pulau tersebut.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id