Ruang Cerita

Senja Lembut yang Singgah di Danau Cincin

Langit perlahan berubah warna ketika matahari mulai menurunkan dirinya ke ufuk barat. Kuning keemasan memudar menjadi jingga lembut

Senja Lembut yang Singgah di Danau Cincin
Senja di danau cincin Jakarta Utara (dok Afdal fin)

Oleh: Afdal Namakule

Langit perlahan berubah warna ketika matahari mulai menurunkan dirinya ke ufuk barat. Kuning keemasan memudar menjadi jingga lembut, lalu bercampur dengan abu-abu tipis yang menggantung di atas Danau Cincin, Jakarta Utara. Permukaan air yang tenang memantulkan cahaya matahari seperti kaca raksasa yang menyimpan sisa-sisa siang.

Di seberang danau, bangunan megah Jakarta International Stadium (JIS) berdiri kokoh. Lengkungan arsitekturnya tampak kontras dengan suasana alam yang begitu hening. Seolah-olah stadion itu menjadi pengingat bahwa di tengah hiruk-pikuk ibu kota, masih ada ruang bagi seseorang untuk berhenti sejenak, menarik napas, lalu menikmati sore yang berjalan pelan.

Sabtu pekan lalu, saya mengunjungi Danau Cincin. Tak ada peralatan yang saya bawah, hanya ponsel seharga dua jutaan yang memiliki kamera 50 mega pixel. Cukup untuk mengabadikan langit sore yang melangkolis itu.

Sebagai penghobi fotografi lanscape, saya selalu percaya bahwa setiap senja memiliki cerita yang berbeda. Matahari memang terbenam setiap hari, tetapi langit tak pernah melukis warna yang sama dua kali.

Jakarta Utara, bagi saya, memiliki romantismenya sendiri. Banyak orang mengenal kawasan ini lewat pelabuhan, kawasan industri, jalanan padat, atau deretan pergudangan. Namun, ketika sore datang, wajahnya berubah. Air laut atau danau menjadi cermin yang memantulkan cahaya matahari terakhir. Angin bertiup lebih lembut, suara kendaraan terasa menjauh, dan langit perlahan menghapus penat yang menempel sejak pagi.

Senja Lembut yang Singgah di Danau Cincin

Senja dan JIS di Danau Cincin

Danau Cincin, waktu seperti berjalan lebih lambat.

Beberapa anak berlarian mengejar layang-layang yang menari mengikuti arah angin. Sekelompok remaja duduk berjajar di pembatas danau sambil bercengkerama. Ada pasangan muda yang menikmati suasana tanpa banyak bicara. Sebuah keluarga menggelar tikar sederhana, membiarkan anak-anak mereka berlarian sambil sesekali menunjuk matahari yang perlahan turun.

Tak ada yang benar-benar terburu-buru.

Setiap orang seolah memiliki alasan yang sama untuk datang ke tempat ini: menikmati sore sebelum malam mengambil alih langit Jakarta.

Di sudut lain, dua kapal kecil bersandar tenang di dermaga. Pantulan cahaya matahari di antara keduanya menghadirkan pemandangan sederhana yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Kadang, keindahan memang tidak selalu membutuhkan gunung tinggi atau pantai yang jauh. Danau di tengah kota pun mampu menghadirkan ketenangan, asalkan seseorang mau berhenti sejenak untuk melihatnya.

Bagi seorang fotografer, momen seperti ini adalah hadiah.

Saya beberapa kali memindahkan posisi, mencari sudut terbaik. Sesekali menunggu awan bergeser agar matahari tepat berada di atas kubah JIS. Di waktu lain, saya menunggu siluet pengunjung yang sedang duduk menghadap danau agar menjadi bagian dari cerita dalam bingkai foto.

Berita Terkait