Nasional

Dugaan Keracunan MBG di SMAN 6 Semarang: Dinkes Periksa Sampel Rendang, Daun Singkong, dan Telur Puyuh

Dinkes Semarang masih meneliti penyebab dugaan keracunan MBG di SMKN 6. Sampel rendang, daun singkong, dan telur puyuh diuji di laboratorium.

Dugaan Keracunan MBG di SMAN 6 Semarang: Dinkes Periksa Sampel Rendang, Daun Singkong, dan Telur Puyuh
Sebanyak 25 guru dan murid di Bogor diduga keracunan usai menyantap MBG.

fin.co.id - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang masih meneliti penyebab dugaan keracunan yang dialami ratusan siswa dan guru di SMK Negeri 6 Semarang setelah menyantap menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Proses investigasi saat ini berfokus pada pemeriksaan laboratorium terhadap sejumlah sampel makanan yang diduga menjadi pemicu kejadian tersebut.

Kepala Dinkes Kota Semarang Abdul Hakam mengatakan, seluruh sampel makanan telah dikirim ke laboratorium untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

"Kalau hasil pastinya belum selesai ya. Karena sampelnya ini kan harus dibiakkan dulu untuk menemukan apakah positif kuman atau bakteri. Butuh dilakukan yang namanya pemeriksaan kultur bakteri di sampel-sampel yang dicurigai," katanya, Selasa, 4 Agustus 2026.

Hasil Uji Laboratorium Diperkirakan Keluar dalam 7-14 Hari

Abdul Hakam menjelaskan proses pemeriksaan tidak bisa dilakukan secara instan karena laboratorium harus melakukan kultur bakteri terhadap sampel makanan yang dicurigai.

Ia memperkirakan hasil pemeriksaan laboratorium baru akan diketahui dalam waktu sekitar 7 hingga 14 hari. Sampel makanan yang saat ini diteliti meliputi rendang, daun singkong, dan telur puyuh, yang sebelumnya dikonsumsi para siswa dalam menu MBG.

Rendang Paling Banyak Disebut Saat Anamnesis

Menurut Hakam, penentuan sampel makanan tidak dilakukan secara acak. Tim Dinkes terlebih dahulu melakukan asesmen dan anamnesis terhadap para siswa yang mengalami gejala.

Petugas mewawancarai siswa satu per satu untuk mengetahui menu yang diduga menjadi sumber masalah.

"Dari sekian ratus yang ada tanda dan gejala, kita lakukan asesmen atau anamnesa. Tanya satu-satu kira-kira pada saat makan yang kira-kira bermasalah apanya," katanya.

Hasil anamnesis menunjukkan sekitar 49 persen responden mengarah pada menu rendang, sekitar 40 persen menyebut telur puyuh, sedangkan sisanya mengarah pada daun singkong.

Dugaan Bakteri Masih Menunggu Hasil Pemeriksaan

Hakam mengatakan, kasus dugaan keracunan makanan umumnya berkaitan dengan paparan bakteri tertentu. Beberapa bakteri yang sering menjadi penyebab antara lain Staphylococcus, Escherichia coli, dan Salmonela.

Meski demikian, Dinkes belum dapat memastikan penyebab kasus tersebut sebelum hasil pemeriksaan laboratorium selesai.

Sekolah Lain yang Dilayani SPPG Tidak Mengalami Keracunan
Abdul Hakam menjelaskan bahwa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan ke SMKN 6 Semarang juga melayani sejumlah lembaga pendidikan dan kelompok penerima manfaat lainnya.

Menurutnya, hingga saat ini tidak ditemukan kasus serupa pada penerima makanan dari lokasi tersebut. "Ada PAUD, ada 3B (MBG untuk ibu hamil dan balita), ada SD. Ya, mereka Alhamdulillah, enggak (keracunan, red.)," katanya.

Makanan Dimasak Sejak Malam dan SPPG Baru Penuhi Tiga SOP

Dari hasil pemeriksaan awal, Dinkes memperoleh pengakuan dari pihak SPPG bahwa makanan untuk SMKN 6 Semarang mulai dimasak sejak pukul 21.00 WIB atau dinilai terlalu dini.

Selain itu, Hakam mengungkapkan bahwa SPPG tersebut baru memenuhi tiga standar operasional prosedur (SOP) dari total 19 SOP yang dipersyaratkan.

Tiga SOP yang telah dipenuhi meliputi prosedur distribusi makanan, prosedur saat makanan diberikan kepada siswa, serta SOP yang berkaitan dengan bahan baku.

"Yang terpenuhi SOP untuk distribusi, kemudian SOP saat diberikan pada siswa. Yang ketiga adalah SOP berkaitan dengan bahan baku," katanya.

Sebelumnya, sebanyak 707 orang mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan keracunan setelah menyantap menu MBG pada Jumat (31/7). Jumlah tersebut terdiri atas 693 siswa dan 14 guru.

Dari total tersebut, 698 orang mendapatkan penanganan langsung di lokasi, sedangkan sembilan orang dirujuk ke sejumlah rumah sakit dan puskesmas untuk memperoleh perawatan lebih lanjut.

Berita Terkait