Internasional . 02/08/2026, 17:41 WIB
fin.co.id — Korea Selatan (Korsel) mencatatkan rekor suhu tertinggi sepanjang masa sejak sistem pencatatan resmi berdiri lebih dari seabad yang lalu. Pada Minggu, 2 Agustus 2026, suhu udara di negara ini melonjak ekstrem hingga memicu peringatan darurat dari pihak berwenang.
Masyarakat negeri gingseng diminta "segera" menghentikan seluruh aktivitas luar ruangan di daerah yang terdampak. Berdasarkan data resmi Badan Meteorologi Korea (KMA) melalui situs resminya, Kota Yangsan di wilayah tenggara mencatat lonjakan suhu luar biasa hingga mencapai 42,5°C pada pukul 13.26 waktu setempat.
Kota Yangsan kini menjadi pusat gelombang panas yang terus menerus melanda kawasan tersebut. Wilayah ini bahkan telah mencatat suhu yang melebihi 40°C selama lima hari berturut-turut hingga akhir pekan.
Sementara itu, berbagai kota besar lainnya di Korea Selatan juga menghadapi lonjakan suhu udara yang signifikan. Banyak kota, termasuk Daegu dan Busan, mengalami kenaikan suhu hingga menembus di atas 30°C.
Guna mengatasi ancaman gelombang panas ini, pihak berwenang menempatkan lebih dari 20 wilayah di bawah peringatan gelombang panas darurat pada hari Minggu. Kategori peringatan darurat ini merupakan langkah baru yang pemerintah perkenalkan tahun ini agar dapat mengantisipasi dan mengatasi kenaikan suhu udara secara lebih efektif.
Pemerintah mengeluarkan peringatan darurat tersebut saat suatu wilayah menghadapi potensi suhu yang dirasakan (feels-like temperature) mencapai 38°C atau ketika suhu aktual diproyeksikan menyentuh 39°C pada hari itu.
Melalui rilis peringatan panas tersebut, badan cuaca mendesak seluruh lapisan masyarakat untuk "segera menghentikan semua aktivitas di luar ruangan". Pihak otoritas menegaskan serta menambahkan bahwa "ruang dalam ruangan tanpa pendingin udara berbahaya" bagi keselamatan.
"Segera pindah ke tempat yang sejuk, seperti pusat pendinginan yang ditunjuk atau area yang teduh, dan tetap terhidrasi saat beristirahat," saran Badan Meteorologi Korea (KMA) kepada publik.
Ancaman cuaca ekstrem ini sejalan dengan tren perubahan iklim jangka panjang yang tercatat oleh otoritas cuaca nasional. Data KMA menunjukkan bahwa jumlah rata-rata hari gelombang panas tahunan di Korea Selatan telah meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 19 hari selama lima tahun terakhir, melompat signifikan dari rata-rata delapan hari pada era 1970-an.
Menghadapi sengatan gelombang panas yang membakar, masyarakat lokal berupaya keras mencari perlindungan. Reporter AFP memantau langsung bagaimana orang-orang berbondong-bondong memadati pusat perbelanjaan atau kafe ber-AC demi menghindari suhu udara yang sangat panas di luar gedung.
Salah satu warga Seoul, Ju Dong-yeol (27 tahun), memilih berlindung dari sengatan panas di sebuah kedai Starbucks di ibu kota bersama kedua orang tuanya. Pekerja kantoran tersebut menceritakan kondisi ekstrem yang ia rasakan langsung kepada wartawan AFP.
Ju Dong-yeol mengungkapkan bahwa kondisi cuaca saat ini terasa "terlalu panas untuk berada di luar melakukan apa pun".
"Saya tidak bisa memikirkan hal lain selain tinggal di tempat ber-AC seperti rumah, pusat perbelanjaan, dan kafe," kata pekerja kantoran itu saat menggambarkan situasi sengatan panas yang melanda.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id