Pramono Siapkan Hujan Buatan, Jakarta Siaga Kemarau

fin.co.id - 30/07/2026, 19:35 WIB

Pramono Siapkan Hujan Buatan, Jakarta Siaga Kemarau

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo melarang ondel-ondel sebagai sarana mengamen di jalanan. Foto: Cahyono

fin.co.id - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berencana menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai langkah antisipasi menghadapi dampak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang tahun ini.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mengatakan, rencana tersebut telah dikoordinasikan dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Operasi modifikasi cuaca akan dilakukan melalui rekayasa hujan buatan untuk menjaga ketersediaan air dan mengurangi risiko kekeringan.

"Nanti akan segera kita putuskan untuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melakukan rekayasa cuaca di Jakarta. Kali ini untuk membuat hujan di Jakarta," kata Pramono di Jakarta Selatan, Kamis, 30 Juli 2026.

Menurut Pramono, Jakarta telah mengalami kondisi tanpa hujan selama hampir tiga pekan. Situasi serupa juga terjadi di sejumlah wilayah hulu yang mulai terdampak kekeringan.

"Sekarang ini hampir 2-3 minggu tidak pernah ada hujan sama sekali, apalagi di hulu juga beberapa tempat terjadi kekeringan," ujarnya.

Meski demikian, Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Marulitua Sijabat memastikan hingga saat ini belum ada wilayah di ibu kota yang mengalami kekeringan akibat musim kemarau.

BPBD terus memantau perkembangan kondisi cuaca serta menyampaikan peringatan dini sebagai langkah mitigasi terhadap potensi bencana selama musim kemarau.

"Saat ini masih belum ada wilayah yg mengalami kekeringan," kata Marulitua.

Sebelumnya, BMKG memprediksi puncak musim kemarau tahun 2026 akan berlangsung pada Agustus hingga September dengan karakteristik yang lebih kering dan berdurasi lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan sekitar 48,8 persen wilayah Indonesia diperkirakan memasuki puncak musim kemarau pada Agustus, sedangkan sekitar 25 persen wilayah lainnya akan mengalaminya pada September.

"Seperti yang kami sampaikan di press rilis bulan Maret dan Mei yang lalu, bahwa puncak musim kemarau tahun 2026 ini diprediksi terjadi mayoritas pada bulan Agustus hingga September tahun 2026," ujar Ardhasena.

Ia menambahkan, 48,8 persen luas wilayah Indonesia diperkirakan mencapai puncak musim kemarau pada Agustus, sementara 25 persen lainnya memasuki fase tersebut pada September.

Melalui rencana operasi modifikasi cuaca, Pemprov DKI berharap dapat mengurangi dampak kemarau panjang sekaligus menjaga ketersediaan air dan meminimalkan potensi gangguan lingkungan di Jakarta.

Cahyono/Disway

Mihardi
Mihardi
Penulis

Redaktur FIN.CO.ID