Nasional . 28/07/2026, 20:25 WIB

BMKG Siaga El Nino Kuat, Modifikasi Cuaca Diperluas Cegah Karhutla

Penulis : Mihardi
Editor : Mihardi

fin.co.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat langkah antisipasi menghadapi dampak El Nino yang kini telah memasuki kategori kuat di Indonesia. Fokus utama pemerintah diarahkan pada pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta mengurangi risiko kekeringan di sejumlah wilayah.

Salah satu strategi yang disiapkan adalah memperluas operasi modifikasi cuaca. Program ini dijalankan BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan, dan sejumlah pihak swasta.

Operasi tersebut difokuskan untuk menambah pasokan air di berbagai waduk sehingga ketersediaannya tetap terjaga bagi pembangkit listrik tenaga air (PLTA), sektor pertanian, serta kebutuhan air bersih masyarakat.

"Untuk kekeringan, BMKG melakukan beberapa modifikasi cuaca bekerjasama dengan BNPB, bekerjasama dengan Kementerian Kehutanan, dan juga dengan swasta untuk pengisian waduk," kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa, 28 Juli 2026.

Selain menjaga cadangan air, operasi modifikasi cuaca juga diterapkan sebagai langkah pencegahan karhutla. BMKG membasahi lahan gambut sebelum muncul titik api agar kawasan tersebut tetap jenuh air dan tidak mudah terbakar.

Penentuan lokasi dilakukan berdasarkan pemantauan tinggi muka air tanah di lahan gambut yang dikoordinasikan bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan melalui aplikasi Sipongi.

"Ketika muka air tanahnya sudah menurun, itu dilakukan modifikasi cuaca yang dapat menjatuhkan jutaan kubik air dan kemudian dapat menjenuhkan daerah tersebut. Sehingga sekarang kita lihat bahwa untuk kebakaran hutan dan lahan relatif lebih dapat dikendalikan dibanding sebelum 2015," jelas dia.

Dalam upaya mitigasi karhutla, pemerintah menetapkan enam provinsi sebagai wilayah prioritas, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Sementara itu, operasi modifikasi cuaca juga dilakukan secara situasional di Kepulauan Riau serta beberapa wilayah di Aceh sesuai perkembangan kondisi cuaca.

BMKG turut memanfaatkan teknologi tersebut untuk menjaga tinggi muka air di sejumlah waduk dan danau strategis. Salah satunya di Danau Toba, yang menjadi sumber penting bagi operasional PLTA, aktivitas pertanian, dan kebutuhan air masyarakat.

"Jadi di sana kita lakukan operasi modifikasi cuaca untuk mem-maintain atau menjaga permukaan air dalam kondisi normal sehingga masyarakat masih tetap bisa bertani, kemudian pembangkit listrik tenaga air juga dapat terjaga," tuturnya.

Ia menambahkan bahwa biaya operasi modifikasi cuaca jauh lebih kecil dibandingkan manfaat ekonomi yang dihasilkan, terutama dari sektor kelistrikan dan industri yang bergantung pada pasokan air.

"Kira-kira investasinya itu 10 kali lebih kecil daripada rupiah yang dihasilkan dari air yang digunakan untuk PLTA karena banyak industri-industri besar yang ada di sekitar Danau Toba," lanjutnya.

Anisha Aprilia/Disway

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id