Tensi Tinggi di Timur Tengah Picu Rupiah Melemah ke Rp17.977 per Dolar AS

fin.co.id - 20/07/2026, 09:27 WIB

Tensi Tinggi di Timur Tengah Picu Rupiah Melemah ke Rp17.977 per Dolar AS

Rupiah hari ini melemah ke Rp17.977 per dolar AS akibat konflik Timur Tengah.

fin.co.idNilai tukar rupiah pada Senin, 20 Juli 2026 pagi bergerak melemah sebesar 56 poin atau turun 0,31 persen ke posisi Rp17.977 per dolar AS. Laju mata uang Garuda terhambat jika dibandingkan dengan level penutupan sebelumnya yang berada di posisi Rp17.921 per dolar AS.

Ketidakpastian geopolitik yang kembali memanas di Timur Tengah menjadi faktor utama yang menahan penguatan mata uang domestik hari ini. Konflik memuncak setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran terlibat aksi saling serang. Pasar keuangan membaca bahwa eskalasi ketegangan ini masih jauh dari kata mereda, apalagi serangan Iran pada Jumat lalu kabarnya menewaskan dua personel militer AS di Yordania.

Harga Minyak Dunia dan Indolar Melonjak

Dampak langsung dari kekacauan geopolitik tersebut langsung mengerek naik harga minyak mentah Brent sebesar 2,61 persen menjadi US$90,4 per barel pada pukul 07.35 WIB. Lonjakan ini melanjutkan tren kenaikan yang sudah terjadi sejak awal pekan lalu. Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) juga masih bertahan tinggi di level 100,8, sehingga terus menekan mata uang negara berkembang.

Di tengah ketidakpastian global yang meningkat, pergerakan mata uang di kawasan Asia terpantau sangat bervariasi. Ringgit Malaysia justru mencatat penguatan yang cukup tajam, lalu menyusul yuan offshore yang menguat secara terbatas. Sebaliknya, mayoritas mata uang Asia lainnya kompak melemah karena merespons sentimen negatif dari Timur Tengah.

Pekan Penentu Stabilitas dan Sinyal Kenaikan Suku Bunga BI

Bagi pergerakan nilai tukar rupiah, pekan ini akan menjadi momen krusial untuk menentukan stabilitas ke depan. Namun, para analis memperkirakan mata uang Garuda akan lebih stabil dalam beberapa bulan mendatang. Hal ini terjadi karena Bank Indonesia (BI) mendapat proyeksi akan terus mendukung penguatan kurs domestik. Melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) pekan ini, pasar menilai BI akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) hingga menyentuh level 6%.

Melansir data dari Bloomberg News, rupiah sebenarnya memiliki potensi untuk menguat menuju kisaran Rp17.850 per dolar AS pada kuartal III-2026. Prediksi optimistis ini datang dari Credit Agricole CIB yang melihat tanda-tanda pemulihan nilai tukar sudah mulai terlihat. Indikatornya adalah rupiah sempat menguat 1,3 persen sejak menyentuh rekor terlemahnya di level Rp18.190 per dolar AS pada bulan lalu.

Selain itu, volatilitas implisit tiga bulan antara dolar AS dan rupiah juga terpantau turun 115 bps menjadi 6,78 persen dari posisi sebelumnya yang sebesar 7,93 persen. Penurunan ini mencerminkan bahwa ketidakpastian dalam jangka pendek mulai mereda. Kondisi tersebut membuat Bank Julius Baer menilai rupiah berpotensi bergerak menguat lebih jauh hingga ke level Rp17.800 per dolar AS, seperti dikutip dari Bloomberg News.

Faktor Domestik dan Eksternal yang Wajib Diwaspadai

Meskipun prospek jangka pendek menunjukkan tanda-tanda perbaikan, arah pergerakan mata uang ke depan masih sangat bergantung pada kombinasi faktor domestik dan eksternal.

Para pelaku pasar kini tengah mencermati beberapa sentimen penting secara bersamaan, antara lain:

  • Hasil keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia terkait suku bunga.
  • Perkembangan harga minyak dunia akibat konflik Timur Tengah yang berisiko menekan kondisi fiskal Indonesia.
  • Keputusan penyedia indeks global mengenai klasifikasi pasar saham Indonesia.

Di samping itu, arah kebijakan moneter bank sentral AS (Federal Reserve) juga memegang peranan penting. Kemampuan pemerintah Indonesia dalam menjaga disiplin fiskal serta memulihkan kepercayaan investor akan menjadi penentu utama, apakah penguatan rupiah dapat berlanjut atau justru kembali menghadapi tekanan berat dalam beberapa bulan ke depan.

Esnoe Faqih Wardhana
Esnoe Faqih Wardhana
Penulis

Penulis FIN.CO.ID