fin.co.id - Stadion Miami, Amerika Serikat, bersiap menjadi saksi pertarungan dua raksasa sepak bola Eropa, Prancis dan Inggris. Keduanya akan saling sikut dalam laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026 pada Minggu 18 Juli 2026 pagi WIB. Meski medali perunggu bukanlah target utama saat turnamen ini dimulai, kedua tim tetap memikul tanggung jawab besar untuk menutup perjalanan mereka dengan kepala tegak.
Kegagalan melaju ke partai final tentu meninggalkan kekecewaan mendalam bagi skuad asuhan Didier Deschamps dan anak didik Thomas Tuchel. Namun, di balik rasa kecewa tersebut, pertandingan ini menawarkan gengsi yang tetap tinggi. Prancis dan Inggris ingin membuktikan kualitas mereka sebagai tim papan atas dunia sekaligus memberikan hiburan penutup bagi para pendukung setianya.
Menjelang laga krusial ini, Didier Deschamps dan Thomas Tuchel mengisyaratkan akan melakukan rotasi pemain. Keputusan ini bertujuan untuk memberikan menit bermain bagi pemain-pemain yang sebelumnya jarang tampil di lapangan. Strategi ini bukan berarti meremehkan lawan, melainkan bentuk apresiasi bagi seluruh anggota skuad yang telah berjuang keras sepanjang turnamen.
Bagi para pemain pelapis, ini adalah panggung pembuktian. Mereka memiliki kesempatan untuk menunjukkan kapasitas terbaik mereka di hadapan dunia. Selain itu, rotasi ini memungkinkan pelatih untuk menguji kedalaman taktik tanpa tekanan sebesar laga semifinal atau final.
Prancis tetap mempertahankan fondasi kuat di lini belakang. Mike Maignan tetap mengawal mistar gawang Les Bleus. Sementara itu, kombinasi Malo Gusto, Dayot Upamecano, Maxence Lacroix, dan Theo Hernandez akan menjadi tembok kokoh yang menghalau serangan Inggris.
Sorotan utama tertuju pada lini tengah Prancis. Gelandang veteran, N'Golo Kante, diprediksi bakal tampil sejak menit pertama. Kehadiran Kante tentu membawa dimensi baru bagi permainan Prancis. Ia akan berduet dengan Manu Kone guna mengontrol ritme pertandingan dan memutus aliran bola dari lini tengah Inggris.
Di lini serang, Deschamps tidak banyak melakukan perubahan. Kuartet maut Prancis yang terdiri dari Ousmane Dembele, Michael Olise, Desire Doue, dan sang megabintang Kylian Mbappe akan memimpin lini depan. Mbappe tentu memiliki motivasi berlebih untuk mencetak gol dan menutup turnamen ini dengan catatan individu yang impresif.
Di kubu Inggris, Thomas Tuchel berencana memberikan kesempatan starter bagi sejumlah pemain. Jordan Pickford tetap menempati pos penjaga gawang utama. Di sektor pertahanan, Jarrell Quansah kembali merumput setelah lepas dari hukuman skorsing. Quansah akan berduet dengan bek jangkung Dan Burn, Marc Guehi, serta pemain muda Nico O'Reilly.
Lini tengah Inggris akan menjadi pusat kreativitas. Elliot Anderson akan berkolaborasi dengan Jude Bellingham, yang selama turnamen ini menjadi motor serangan bagi The Three Lions. Peran keduanya sangat krusial dalam mengatur transisi dari bertahan ke menyerang.
Harry Kane tetap menjadi ujung tombak utama. Kapten Inggris ini akan didukung oleh trio dinamis yakni Bukayo Saka, Morgan Rogers, dan Marcus Rashford. Kombinasi ini menjanjikan kecepatan dan ancaman dari sisi sayap yang bisa merepotkan lini pertahanan Prancis sepanjang pertandingan.
Baca Juga
Pertandingan perebutan tempat ketiga sering kali berlangsung lebih terbuka dibandingkan semifinal. Tanpa beban berat menuju final, kedua tim diprediksi tampil lepas dan berani menekan sejak peluit babak pertama dibunyikan. Baik Prancis maupun Inggris memiliki kualitas individu yang mampu memecah kebuntuan kapan saja.
Bagi penikmat sepak bola, duel ini menjanjikan aksi berkelas. Kecepatan Mbappe akan beradu dengan ketangguhan pertahanan Inggris, sementara kecerdasan Bellingham di lapangan tengah akan diuji oleh kedisiplinan Kante dan Kone.
Kemenangan tentu menjadi target mutlak bagi kedua kubu guna menghapus noda kegagalan di semifinal. Prancis mungkin memiliki sedikit keunggulan dalam hal kedalaman skuad, namun Inggris memiliki determinasi untuk membuktikan bahwa mereka adalah salah satu tim terbaik dunia. Siapa pun yang keluar sebagai pemenang, medali perunggu akan menjadi pelipur lara yang cukup manis untuk dibawa pulang dari Amerika Serikat.