Taktik Bertahan Jadi Bumerang, Thomas Tuchel Dikritik Habis-habisan oleh Legenda Inggris

fin.co.id - 16/07/2026, 14:21 WIB

Taktik Bertahan Jadi Bumerang, Thomas Tuchel Dikritik Habis-habisan oleh Legenda Inggris

Taktik Bertahan Jadi Bumerang, Thomas Tuchel Dikritik Habis-habisan oleh Legenda Inggris

fin.co.id - Langkah Timnas Inggris di Piala Dunia 2026 harus terhenti di babak semifinal secara dramatis. Skuad asuhan Thomas Tuchel menelan kekalahan pahit 1-2 dari Argentina di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, Kamis 16 Juli 2026. Kegagalan ini memicu gelombang kritik tajam terhadap sang pelatih, Thomas Tuchel, yang dinilai melakukan kesalahan fatal dalam menyusun strategi permainan.

Inggris sebenarnya mengawali pertandingan dengan performa yang cukup impresif. Mereka mampu meredam dominasi Argentina sekaligus mencetak gol pembuka melalui Anthony Gordon pada awal babak kedua, sehingga memimpin 1-0. Namun, alih-alih mempertahankan momentum untuk menambah keunggulan, Tuchel justru mengubah pendekatan permainan menjadi sangat defensif.

Perubahan taktik inilah yang menjadi sorotan banyak pihak. Inggris membiarkan Argentina mendominasi penguasaan bola setelah unggul satu gol. Pasukan Lionel Scaloni pun dengan leluasa mengepung pertahanan Inggris. Tekanan tersebut akhirnya membuahkan hasil bagi Argentina melalui dua gol telat Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez yang membalikkan skor menjadi 2-1. Kekalahan ini memaksa Inggris kembali mengubur impian mereka mengangkat trofi juara dunia pertama sejak 1966.

Legenda hidup Timnas Inggris, Wayne Rooney, melontarkan kritik pedas terhadap keputusan Tuchel. Menurut Rooney, Inggris terlalu cepat kehilangan keberanian setelah memimpin. Ia berpendapat bahwa skuad The Three Lions seharusnya terus melancarkan serangan karena Argentina justru sedang berada di bawah tekanan besar saat tertinggal.

"Inggris panik. Anda tidak boleh unggul 1-0 lalu menyerah. Anda harus tetap menyerang. Argentina-lah yang berada di bawah tekanan," tegas Rooney dengan nada kecewa. Mantan penyerang Manchester United itu bahkan blak-blakan menyebut bahwa keputusan-keputusan yang diambil oleh Tuchel telah merugikan tim.

Kritik serupa datang dari mantan kiper timnas Inggris, Joe Hart. Ia menilai keputusan Tuchel untuk bermain lebih dalam menunjukkan bahwa sang pelatih tidak memiliki kepercayaan diri penuh terhadap kemampuan anak asuhnya. "Thomas Tuchel menunjukkan bahwa dia tidak percaya kepada timnya sendiri setelah mereka unggul 1-0," ujar Hart menyoroti perubahan formasi yang justru memutus aliran bola ke lini depan.

Tidak hanya para pakar, netizen pun mengungkapkan kemurkaan mereka di berbagai platform media sosial. Nama Thomas Tuchel bahkan langsung menghiasi daftar trending topic dunia sesaat setelah pertandingan berakhir. Banyak pendukung Inggris menganggap strategi "parkir bus" terlalu dini yang dilakukan Tuchel sebagai bentuk tindakan bunuh diri taktis.

Para suporter menyayangkan keputusan Tuchel yang tidak mempelajari pola permainan Argentina. Mereka menilai Argentina memiliki sejarah panjang sebagai tim yang sangat berbahaya di menit-menit akhir pertandingan. Ketidakmampuan Tuchel untuk menambah keunggulan saat lawan goyah membuat banyak pendukung merasa kecewa berat atas hasil laga semifinal tersebut.

Pembelaan Diri Thomas Tuchel

Meski dihujani kritik, Thomas Tuchel menolak untuk menyesali taktik yang ia terapkan. Ia memberikan pembelaan bahwa perubahan formasi menjadi lima bek perlu dilakukan karena pertahanan Inggris mulai meninggalkan banyak celah. Tuchel merasa Argentina sangat dominan dalam duel udara, sehingga ia memerlukan tambahan personel di lini belakang untuk menjaga keunggulan.

"Saya memutuskan beralih ke formasi lima bek karena terlalu banyak celah di lini pertahanan dan Argentina memenangkan hampir setiap duel udara," ungkap Tuchel dalam sesi wawancara pasca-pertandingan. Ia menambahkan bahwa opini mengenai kesalahannya muncul hanya karena hasil pertandingan tidak berakhir sesuai harapan. "Kalau hasilnya tidak berakhir baik, tentu mudah bagi orang lain untuk mengatakan bahwa keputusan saya salah. Namun, saya sama sekali tidak menyesal," imbuhnya.

Lebih jauh, Tuchel justru mengklaim bahwa pertandingan melawan Argentina merupakan salah satu penampilan terbaik Inggris sepanjang turnamen. Ia merasa bangga dengan perjuangan anak asuhnya yang berhasil melewati berbagai rintangan berat di Piala Dunia 2026, mulai dari cuaca panas hingga kondisi lapangan yang menantang. Kini, Inggris hanya memiliki satu kesempatan terakhir untuk menutup turnamen dengan catatan positif, yakni melalui laga perebutan tempat ketiga melawan Prancis yang sebelumnya kalah dari Spanyol. Tantangan besar bagi Tuchel sekarang adalah membangun kembali mental pemain di tengah badai kritik yang terus menerjang.

Ari Nur Cahyo
Ari Nur Cahyo
Penulis

Penulis di FIN.CO.ID sejak Maret 2022 yang fokus mengeksplorasi dunia Teknologi, Sepak Bola, dan Anime. Memiliki ketertarikan kuat pada isu-isu viral, ia berkomitmen menghadirkan konten yang segar, informatif, dan relevan dengan tren masa kini.