fin.co.id — Hubungan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat kembali menghadapi jalan buntu yang sangat krusial. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara terbuka mengambil sikap tegas pada Senin, 7 Juli 2026.
Ia menegaskan bahwa pihak Iran tidak akan memulai proses perundingan untuk mencapai kesepakatan damai final dengan Amerika Serikat, selama negara barat tersebut masih melontarkan berbagai ancaman.
Melalui sebuah unggahan terbaru di media sosial X, Araghchi secara gamblang mengutip poin penting dalam Pasal 13 Nota Kesepahaman Islamabad. Dokumen kerja sama tersebut merupakan kesepakatan resmi yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat bulan lalu.
"Pasal 13 Nota Kesepahaman jelas menyatakan bahwa perundingan mengenai kesepakatan final tidak akan dimulai jika ancaman terus berlanjut. Hormati tanda tangan Anda," tulis Araghchi tegas.
Sebagai informasi, Nota Kesepahaman Islamabad yang berjalan melalui mediasi Pakistan ini sebenarnya sudah mulai berlaku sejak tanggal 18 Juni. Dokumen yang berisi 14 poin utama tersebut sah setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatanganinya secara elektronik.
Kesepakatan awal ini sejatinya membuka ruang diplomasi selama 60 hari melalui metode perundingan tidak langsung. Langkah tersebut bertujuan untuk merumuskan sebuah perjanjian damai yang bersifat permanen bagi kedua belah negara.
Gertakan Militer Donald Trump dan Ancaman dari Pihak Israel
Sikap keras dari Menlu Araghchi ini muncul hanya berselang beberapa jam saja setelah Presiden Donald Trump mengeluarkan peringatan keras. Dari Washington, Trump menyatakan bahwa negaranya sudah sangat siap untuk mengerahkan kekuatan militer apabila jalur meja diplomasi ini menemui kegagalan.
"Kami akan mencapai kesepakatan atau kami akan menuntaskan apa yang telah kami mulai. Itu tidak akan sulit dilakukan. Namun, saya lebih memilih mencapai kesepakatan karena saya tidak ingin 91 juta orang terdampak," cetus Trump saat berbicara kepada awak media di Gedung Putih.
Kondisi geopolitik ini semakin memanas karena sehari sebelumnya, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz juga melayangkan ancaman yang tidak kalah serius. Pihak Israel mengancam akan melakukan tindakan tegas untuk "menggagalkan" siapa saja pemimpin Iran di masa depan yang berani mencoba menyerang wilayah negara mereka.
Mengenang Kepergian Pemimpin Tertinggi Iran
Dalam sebuah unggahan yang sama di media sosial miliknya, Abbas Araghchi tidak hanya melayangkan protes diplomatik. Ia juga membagikan beberapa dokumentasi foto yang memperlihatkan lautan manusia serta kerumunan besar para pelayat di kota Teheran. Masyarakat berkumpul untuk mengikuti prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Baca Juga
Mendiang Ayatollah Ali Khamenei sendiri wafat pada tanggal 28 Februari yang lalu. Hari itu juga tercatat sebagai momen pertama pecahnya konflik bersenjata dan peperangan terbuka yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Situasi berkabung yang bercampur dengan ketegangan militer ini kini membuat masa depan perdamaian di kawasan Timur Tengah menjadi penuh dengan ketidakpastian.