fin.co.id - Tim nasional Amerika Serikat (AS) kini memikul tanggung jawab besar sebagai tuan rumah terakhir yang berjuang di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Sebelumnya, dua negara tuan rumah lainnya, yakni Kanada dan Meksiko, sudah lebih dulu mengamankan tiket ke babak 16 besar. Kanada mencatatkan kemenangan manis 1-0 atas Afrika Selatan, sementara Meksiko tampil perkasa dengan menaklukkan Ekuador 2-0.
Kini, The Stars and Stripes berambisi mengikuti jejak sukses kedua negara tersebut. Skuad asuhan Mauricio Pochettino akan meladeni tantangan Bosnia dan Herzegovina pada Kamis (2/7) pukul 07.00 WIB. Pertandingan krusial ini bakal berlangsung di Stadion San Francisco Bay Area, Amerika Serikat.
Amerika Serikat menampilkan permainan impresif sepanjang babak grup. Mereka berhasil menumbangkan Paraguay dan Australia dengan performa yang meyakinkan. Namun, mereka menelan kekalahan dramatis 2-3 dari Turki pada laga pamungkas. Meski hasil tersebut mengecewakan, Pochettino melakukan banyak rotasi pemain pada laga itu untuk menjaga kebugaran skuad utamanya.
Di sisi lain, Bosnia dan Herzegovina melangkah ke putaran final melalui perjuangan luar biasa. Mereka secara mengejutkan menyingkirkan raksasa dunia, Italia, pada babak play-off zona Eropa. Selama di fase grup, The Dragons mengumpulkan empat poin berkat hasil imbang melawan Kanada, kekalahan tipis dari Swiss, dan kemenangan atas Qatar. Raihan ini cukup membawa mereka lolos sebagai salah satu dari delapan tim peringkat ketiga terbaik.
Keunggulan Pengalaman dan Rekor Pertemuan
Secara pengalaman di panggung dunia, Amerika Serikat tentu jauh lebih unggul. Bosnia dan Herzegovina baru merasakan atmosfer Piala Dunia sebanyak dua kali sepanjang sejarah mereka, setelah debut pada edisi 2014. Bahkan, ini menjadi momen pertama bagi Bosnia dan Herzegovina menginjakkan kaki di fase gugur.
Sebaliknya, AS sudah tujuh kali merasakan ketatnya persaingan di fase knockout. Terakhir, mereka mencapai babak 16 besar pada Piala Dunia 2022. Catatan ini memberi AS kepercayaan diri tinggi untuk melaju lebih jauh di kandang sendiri.
Data 11v11 mencatat laga ini sebagai pertemuan perdana kedua tim di Piala Dunia. Namun, dalam tiga laga persahabatan sejak 2013, Amerika Serikat mendominasi dengan catatan dua kemenangan dan satu hasil imbang. Pertemuan paling ikonik terjadi pada 2013, saat AS memenangkan drama tujuh gol dengan skor 4-3, di mana Jozy Altidore mencetak hattrick spektakuler.
Ambisi dan Taktik Pelatih
Mauricio Pochettino menegaskan bahwa timnya tidak akan memandang remeh Bosnia. Ia menilai lawan memiliki organisasi permainan yang solid, agresif, dan kuat secara fisik. Pochettino menekankan kepada para pemainnya untuk mengadopsi mentalitas "laga final" di setiap pertandingan. Baginya, intensitas tinggi yang mereka bangun sejak laga uji coba melawan Jerman hingga babak grup adalah kunci utama untuk melangkah jauh.
Sementara itu, pelatih Bosnia dan Herzegovina, Sergej Barbarez, justru merasa senang menyandang status tim non-unggulan. Barbarez menyadari Amerika Serikat lebih diunggulkan karena faktor tuan rumah, peringkat dunia yang lebih baik, serta kualitas pemain. Namun, ia tidak gentar sedikit pun.
"Menjadi tim non-unggulan bukan masalah bagi kami. Begitu peluit kick-off berbunyi, status tersebut tidak lagi berarti. Yang terpenting adalah apa yang terjadi di atas lapangan," tegas Barbarez. Sang pelatih ingin para pemainnya menikmati setiap momen di lapangan tanpa beban berlebih.
Pemenang dari duel sengit ini sudah ditunggu oleh Belgia atau Senegal di babak 16 besar. Dukungan suporter tuan rumah di San Francisco tentu akan menjadi energi tambahan bagi Christian Pulisic dan kawan-kawan untuk memastikan langkah mereka ke tahap selanjutnya.